02.02.17

Dokumenter Fotografi Musik bersama IROCKUMENTARY.CLUB

IROCKUMENTARY.CLUB adalah sebuah situs yang digagas oleh kolektif fotografi yang sudah hampir 9 tahun menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa penting dan perkembangan musik Tanah Air. Selain mengkhususkan diri pada dokumentasi musik, IROCKUMENTARY.CLUB juga bertujuan untuk mempromosikan dan memperlihatkan bagaimana deretan hasil karya fotografi dari para fotografer berbakat. Tidak hanya sebagai situs fotografi saja, IROCKUMENTARY.CLUB juga berencana untuk menciptakan sebuah karya kolektif yaitu phodiography (yang merupakan bentuk interpretasi fotografer mengenai sebuah lagu), zine, lokakarya dan pameran. Setelah acara pertamanya yakni diskusi belajar membaca buku foto yang berkolaborasi dengan The Photobook Club Jakarta, IROCKUMENTARY.CLUB kembali mengadakan sebuah diskusi fotografi bertema dokumenter musik. Bersama dengan Perguruan Menengah Omni, IROCKUMENTARY.CLUB juga akan melakukan sebuah lokakarya yang melibatkan para pesertanya untuk ikut serta mengabadikan momen-momen penting dalam perhelatan musik Syarikat Dagang Edisi Bandung: Bottlesmoker X Stars And Rabbit yang digagas oleh Omuniuum dan Ruru Shop. Para peserta lokakarya diberikan kesempatan untuk menjadi fotografer resmi yang kemudian karyanya akan dipublikasikan pada situs IROCKUMENTARY.CLUB. Lokakarya ini terbatas untuk 5 orang, dengan biaya pendaftaran sebesar Rp. 150.000,-. Sedangkan diskusi fotografi dokumenter musik tidak dipungut biaya dan terbuka untuk umum. Kedua acara ini akan berlokasi ditempat yang sama yakni di Omnispace, Bandung, dan akan diadakan pada tanggal 4-5 Febuari 2016. Oleh Agung Hartamurti & Haviz Maulana Bersama Rony Ariyanto Nugroho (Pewarta Foto Harian Kompas) Sabtu, 4 Februari 2017 Pukul 19.00 - selesai Omnispace, Omuniuum Building, Level 3, Jl. Ciumbuleuit No. 151B, Bandung 40141 Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum Pemateri: Agung Hartamurti & Haviz Maulana Minggu, 5 Februari 2017 Pukul 10.00 - selesai Omnispace, Omuniuum Building, Level 3, Jl. Ciumbuleuit No. 151B, Bandung 40141 Terbatas untuk lima peserta Biaya: Rp 150.000,-

30.01.17

Digitalisasi Gelombang Radio

Rabu (11/1) lalu negara Norwegia resmi menutup gelombang radio FM dan memutuskan untuk beralih menggunakan radio jenis Digital Audio Broadcasting (DAB) atau biasa disebut radio digital. Mengutip wawancara Menteri Budaya Norwegia, Thorhild Widvey, alasan Norwegia menutup gelombang FM adalah karena menganggap siaran berbasis FM sudah tidak menguntungkan. Menurutnya, siaran radio FM membutuhkan biaya operasional yang tinggi, namun kualitas suaranya lebih rendah dibanding siaran digital, termasuk dengan fitur dan dukungan. Hal tersebut menjadikan Norwegia sebagai negara pertama yang mematikan radio FM. Berita ini menimbulkan pro dan kontra bagi para warga Norwegia karena terkesan terburu-buru. Walaupun demikian, perpindahan media konvensional ke media digital sesungguhnya adalah sebuah isu yang sudah lama diperbincangkan dan menjadi kondisi yang cukup diperhatikan. Sekarang ini, siaran radio tidak cukup populer seperti dulu, jarang ada yang sengaja menyalakan radio selain di mobil untuk mendengarkan lagu atau menantikan acara dari para penyiar idola. Semenjak kehadiran internet, kebutuhan-kebutuhan seperti mendengarkan lagu contohnya, bisa terpenuhi tanpa harus mendengarkan radio. Dikutip dari berbagai sumber, radio digital berbeda dengan radio online. Radio digital tidak menggunakan jaringan internet. Sama halnya seperti radio FM/AM, radio digital membutuhkan kotak radio khusus. Selain itu, gelombang penerimanya pun berbeda. Kotak radio khusus ini nantinya diperlukan untuk menerima suara berbasis digital, karena proses produksi hingga penyiarannya juga menggunakan teknologi digital. Cara kerja Digital Audio Broadcasting (DAB) sendiri adalah dengan menggabungkan sejumlah data atau audio ke dalam satu kanal yang sudah melewati sistem kompresi suara dengan algoritma tertentu sehingga suara yang dihasilkan lebih jernih dibandingan FM dan nyaris mendekati kualitas Compact Disk (CD). Sementara itu, ternyata ada yang sudah lebih dulu, secara perlahan memberikan pengalaman berbeda dalam mendengarkan radio, sebut saja RURUradio, DeMajors Radio dan radio-radio yang menggunakan jaringan internet lainnya. Walaupun tidak menggunakan sistem DAB, radio-radio tersebut cukup mencuri perhatian banyak khalayak. Dengan berbagai konsep dan segmen yang menarik, radio-radio ini mampu bersaing dengan radio konvensional dan memiliki banyak pendengar setia. Secara jumlah, memang pendengarnya tidak semasif itu, namun secara eksistensi sudah diakui. Memang jika ditelusuri kembali, setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan teknologi yang terus berkembang, cepat atau lambat, pasti akan dihadapkan dengan beragam bentuk perubahan, contohnya seperti kasus d iatas. Sehingga mau tidak mau, harus mengantisipasi segala bentuk kemungkinan, dalam konteks ini, bisa dimulai dari mencari alternatif lain untuk mendengarkan radio seperti melalui radio atau media seperti

26.01.17

Projek Seni “Pusar – Selfie” oleh Mella Jaarsma

Mella Jaarsma adalah seorang seniman berdomisili Yogyakarta. Merupakan salah satu pendiri Cemeti Art House ini, Mella Jaarsma memulai perjalanannya sebagai seniman kontemporer Tanah Air semenjak meninggalkan Belanda pada tahun 1984 untuk menjalani pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta dan Indonesia Institute of the Arts, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Yogyakarta hingga sekarang. Di tahun 2017, Mella tengah mempersiapkan sebuah projek seni bertemakan “Pusar - Selfie”. Pada projeknya, Mella membutuhkan 500 foto pusar dan mengajak teman-teman dari Sabang hingga Marauke untuk mengirimkan selfie - pusar tersebut. Pada projek ini, ada beberapa instruksi yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Ambil foto pusar anda menggunakan kamera handphone dengan jarak 10-15 cm (satu jengkal) dengan kondisi pencahayaan siang hari 2. Tidak perlu identitas, hanya cukup dengan mencantumkan kota/kabupaten, provinsi tempat anda berasal. 3. Kemudian kirimkan foto pusar anda melalui Whatsapp: 081327626117 atau Email: pusarproject@gmail.com “Mungkin pusar sesuatu yang privat, tetapi kita semua sama dan memiliki itu.” - Mella Jaarsma

24.01.17

Who Let the Birds Out?

Label independen muda asal Jakarta, Kolibri Rekords akan menggelar pertamanya di dua kota besar yaitu Jakarta dan Bandung pada tanggal 28 & 29 Januari mendatang. Pada -nya, Kolibri Rekords akan menyajikan penampilan dari band-band yang sudah dirilis seperti bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, dan Lowpink, sekaligus memperkenalkan jagoan barunya yakni dua band asal Yogyakarta, Grrrl Gang dan Seahoarse. Dengan dirilisnya pertama bertajuk "Bathroom", sekumpulan pelajar yang memainkan musik indiepop/garagepop dan memperkenalkan diri sebagai Grrrl Gang ini resmi bergabung dengan Kolibri Rekords bulan Desember lalu dan sedang mempersiapkan rilisan mini berisikan tiga lagu. Tidak lama setelahnya, di bulan Januari, Seahoarse kemudian juga resmi bergabung dengan Kolibri Rekords, dan tengah menyiapkan album perdananya yang dijadwalkan akan dirilis dalam waktu dekat. Seahoarse merupakan kuartet dreampop kawakan berisikan nama-nama yang sudah tidak asing di skena independen lokal Yogyakarta. ini akan menjadi penampilan perdana Seahoarse dan Grrrl Gang di Bandung, dan yang kedua kalinya di Jakarta. Selain itu, selama dua hari ini, Kolibri Rekords berkolaborasi bersama Norrm dengan menjadi edisi ketiga gelaran rutinnya pada “Spasial Edition” dan bersama salah satu Toko Misteri. Yang menarik lainnya, bagi 25 penonton pertama di masing-masing kota akan mendapatkan satu CD kompilasi yang dicetak terbatas dan tidak dijual. Informasi lengkap pembelian tiket, peta lokasi acara, lagu keenam band, dan sebagainya dapat diakses melalui: kolibrirekords.com/birdsout. - WHO LET THE BIRDS OUT? kolibri rekords ​ bedchamber / Gizpel / Grrrl Gang Kaveh Kanes / Low Pink / Seahoarse Saturday, 28 Jan 2017 Spasial - Jl. Gudang Selatan 22, Bandung 3PM IDR 50,000 Sunday, 29 Jan 2017 Toko Misteri - Jl Falatehan 68 Melawai, Jakarta Selatan 3PM IDR 40,000 / IDR 100,000 3

18.01.17

Satir Sarkas bersama Reza Mustar

Walau genre satir dalam literatur sudah berkembang sejak zaman dulu, namun beberapa tahun belakangan publik mulai “terhibur” dengan format satir dalam bentuk komik ala Matt Groening dan Jean Jullien. Salah satu seniman yang menghadirkan satir tersebut adalah Reza Mustar aka Azer. Selain sibuk sebagai penyiar di RURU Radio, Azer juga dikenal dengan moniker Komikazer. Kami menemuinya di rumah untuk membahas sindiran halus yang ia coba sampaikan lewat komik.

16.01.17

Little Shop of Horrors Footurama

Berkat karakternya yang kuat dan ketertarikannya pada tema horor dan fantasi, Natasha Gabriella Tontey (NGT) melahirkan sebuah toko fiksi sebagai karya residensi di Koganecho Bazaar Yokohama, Japan pada tahun 2015. Menggunakan gedung yang dulunya berupa ia menawarkan dunia alternatif sembari mengkurasi berbagai hal terkait ketakukan dan cerita-cerita horor warga setempat untuk dijual pada sebuah toko fiksi yang dinamai “Little Shop of Horrors” Masih dengan palet warna khas neon dan pink yang menjadi identitas karyanya, kali ini NGT kembali menghadirkan “Little Shop of Horrors” untuk diperkenalkan di Jakarta. Konsep yang diangkat sama yaitu toko fiksi, namun pada kesempatan ini barang-barang yang akan dijual berupa bentuk kolaborasi bersama Footurama Freeform Fabrication, yakni koleksi spesial yang mengeksplorasi Jika sebelumnya Sonotanotanpenz diajak oleh NGT untuk merespon ide dan tulisan NGT, kali ini Ken Jenie dan Dipha Barus diajak untuk meresponnya dalam format kaset berisi lagu-lagu yang menghadirkan nuansa horror. Pada malam pembukaan akan dimeriahkan pula dengan penampilan spesial dari Ken Jenie & Krazy Kosmic Kid, serta musik dari Baldi, Bergas, Mar, dan Moustapha Spliff - Tidak hanya itu, “Little Shop of Horrors” juga akan disertai dengan bertajuk ‘‘FRESH FLESH FEAST’ atau ‘Makan Mayit’. Lewat proyek ini, NGT bersama Chandra Drews dan Elia Nurvista mencoba untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang untuk menjadi kanibal, dengan mencicipi hidangan-hidangan pilihan, yang mana menurut NGT, hasrat kanibalisme sebetulnya memang sudah dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Gala ini hanya terbatas untuk 13 partisipan, dengan membeli tiket seharga Rp. 295.000,- sebelum acara, dan Rp. 350.000,- saat acara, yakni pada hari Sabtu, 28 Januari 2017, jam 19:00. - 21 Januari 2017 17:00 Footurama COMO Park Jl. Kemang Timur Raya no. 998 Jakarta

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.