Suara-suara di Balik Defile Jilid 2
Jika sebelumnya Defile menampilkan roster yang memiliki ragam musik mulai dari funk, ambient hingga brazil, jilid kedua ini akan menawarkan selektor yang tidak kalah galak, lengkap dengan kehadiran Gerhan dari Akamady Records sebagai bintang tamu. Kami mendapat kesempatan untuk bertanya beberapa hal kepada salah satu selektor Defile #2, yakni Gonzo aka Duck Dive yang tidak hanya dikenal sebagai produser lagu, tapi juga aktif sebagai DJ. Mulai dari inspirasi musik hingga bagaimana ia meramu tiap lagu, terdapat jawaban bahwa misteri alam memiliki keharmonisan yang tidak dapat digambarkan, namun selalu memiliki daya tarik baginya. Duck Dive bermula dari kecintaan saya terhadap musik ambient/new age, sehingga membuat saya untuk memulai yang berbasis improvisasi. Dalam hal , unsur “improvisasi” juga sangat digunakan, sehingga membuat saya ingin mempelajari lebih dalam. Selain itu, saya sangat menyukai konsep bahwa pada dasarnya DJ hanya memperdengarkan musik-musik koleksinya, yang mana dari situ akan terlihat ciri khasnya, genre seperti apa spesialisasinya. Beberapa tahun belakangan ini saya banyak mengikuti mixtape dari beberapa DJ luar maupun lokal yang sangat saya gemari, dan hal itu memperkenalkan saya kepada banyak track luar biasa yang membuat saya ingin terus , karena tidak akan ada habisnya. Seru! setelah mulai sering menjadi DJ? Dalam proses pembuatan lagu Duck Dive di album-album sebelumnya, saya merekam masing-masing dari tiap lagu menggunakan 4-Track Cassette Recorder yang lalu saya dan EQ sederhana dengan Cubase. Belakangan ini penggunaan (synthesizer, drum machine, efek, dll.) masih mendominasi dalam produksi , tetapi tidak lagi menggunakan 4-Track Recorder karena saya lebih banyak beralih kepada Ableton Live untuk merekam sembari meramu -nya. Saya rasa bisa dibilang sedikit lebih , namun tidak mendominasi. Saya berharap beat akan menambah kompleksitas dari lagunya. Sebagai penghias, bukan pondasinya. Intinya, tidak akan terlalu jauh dari materi saya yang sebelumnya. Hanya akan diwarnai saja. Saya rasa alam masih menjadi inspirasi utama, karena sebagai penyelam kecintaan saya terhadap laut, jelas tidak akan pernah selesai. Selain itu, tema laut, sungai atau hutan juga sangat selaras dengan genre fusion/jazz/new age yang sangat saya sukai. Instrumental, simple namun kompleks, damai, membangkitkan imajinasi. Unsur alam memang bisa dibilang sudah mendarah daging dalam pembuatan lagu Duck Dive. Sejak kecil saya memang sudah mencintai lagu-lagu instrumental yang bernuansa alam seperti album-album jazz Pat Metheny, Chick Corea, hingga film-film dokumenter, program TV pendidikan, dan lain-lain. Saya paling menyukai tema laut, sungai dan hutan karena penuh dengan ketenangan namun mempunyai sisi misteri yang dalam. Belakangan ini saya banyak mengumpulkan album-album new age/jazz/electronica tahun 80-an dari Jepang seperti Yoshio Suzuki, Mu Project, Toshifumi Hinata, Joe Hisaishi. Saya ingin mengarahkan materi saya ke sana. Dentum Dansa Bawah Tanah dibuat berdasarkan sebuah keinginan untuk mendokumentasikan sebuah sisi lain dari dunia gemerlap malam, yaitu masa di mana para penghasil musik elektronik arus pinggir dalam negeri, produktif menghasilkan karya-karya yang orisinil dan berkualitas. Saya berharap ini dapat selalu mengabadikan semangat para penggiatnya dalam berkarya tanpa dipengaruhi apapun yang terjadi di industri musik besar dan menjadi sebuah monumen bersejarah bagi generasi-generasi berikutnya. Di lain sisi, kami menanyai kali ini, Gerhan, tentang pendapatnya akan musik bawah tanah dengan pengalamannya sebagai DJ dan kesempatan untuk melihat perkembangan di San Francisco serta tentang kurasi Dentum Dansa Bawah Tanah. di San Francisco pada tahun 90-an serta bermain di beberapa tempat sejak itu. Bagaimana hal tersebut membentuk karakter musik Gerhan? Untuk dapat tinggal dan merasakan di era tersebut tentunya itu adalah salah satu unsur yang kuat dalam membentuk dasar karakter musik saya hingga seperti sekarang ini. . Sebagai DJ dan produser, bagaimana Gerhan menyikapi musik alternatif? Apakah hal tersebut memiliki stimulan lebih daripada musik non alternatif? Menurut saya semua musik adalah stimulan bagi siapa yang menyukainya. Jadi menurut saya selama musik itu bagus alternatif atau non alternatif mempunyai tingkat stimulan yang sama bagi saya. sekarang masih bersifat ? Ya, pasti masih ada yang bersifat . Tetapi tergantung dari pengertian itu sendiri. di Jakarta? Apakah sudah cukup representatif? Menurut saya sudah cukup baik. Tetapi ini hanya sebagian kecil saja yang baru tercakup, dan mungkin untuk yang berikutnya bisa lebih spesifik lagi dengan kurasinya. Menurut saya masih terlalu Semoga semakin banyak artis/musisi muda yang dapat melahirkan musik-musik baru yang berkualitas dari Jakarta (tertawa). - Kamis, 13 April 2017 Gueens Head 21:00 Harvy, Android 18, Django, Duck Dive Special guest: Gerhan (Akamady Records) Gratis




