Brand streetwear asal New York, Supreme, telah merilis Spring/Summer Collection untuk tahun 2017. Salah satu yang menarik adalah seri kolaborasi dengan menggunakan beberapa karya pelukis kelahiran Belanda, Maurits Cornellis Escher.
Escher adalah seniman grafis yang banyak karyanya mengambil bentuk geometris rumit seperti polyhedra yang diproduksi dengan teknik linocut atau . Ia memberi tekanan pada persepsi dimensional dan bentuk dalam karyanya. Hiperbola geometris yang ditawarkan oleh Escher mempengaruhi bentuk kerupaan dan beberapa aspek teknologi yang dekat dengan keseharian sekarang
Koleksi Supreme yang mengambil beberapa karya grafis Escher dicetak pada , dan topi. Beberapa hadir dengan pilihan 4 warna yakni hitam, putih, pink dan biru. Seri M.C. Escher ini telah dijual di New York, Paris, London, dan Jepang.
Karya Escher dianggap kental dengan nuansa sains dan teknologi dan karenanya dianggap dekat dengan kultur pop. Kolaborasi ini bisa jadi bentuk yang baik untuk menawarkan karya seniman yang telah meninggal pada 1972 lalu itu sebagai bentuk aplikasi seni rupa pada fashion.
Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DangerDope atau DJ Rencong telah merilis album penuh pertamanya bersamaan dengan perhelatan Record Store Day bulan April lalu. DJ dari Aceh ini telah menekuni jalan bermusik lebih dari 10 tahun dengan berbagai gaya lewat proyek panggung dan kolaborasi yang beragam sebelum ia menelurkan rilisan pertamanya.
Bangunan dan kolase musik yang ia pilih disusun dari rekaman komposer tanah air seperti Bob Tutupoli dan Lilies Suryani atau juga rekaman siaran TV tanah air yang ia padukan dengan instrumen tradisional. Menarik bisa mendengar nuansa ritme hip hop di antara rekaman jadul dan bangunan musik tradisional yang dihasilkan oleh seruling atau rebab misalnya.
Ia mungkin bukan yang pertama memasukkan nuansa tradisional tanah air yang dipadukan dengan subkultur hip hop, namun karakter musiknya berangkat dari kecermatan memilih serta mengiris nya menjadi satu komposisi yang dinamis. Lewat label PasPas Records yang juga merilis EP Ramayana Soul April lalu, “Raw Chapter One” bisa jadi alternatif musik yang layak didengarkan dan mari berharap akan ada “Raw Chapter Two” yang akan dihasilkan oleh yang kerap memakai topeng gas saat manggung ini.
Terberkatilah mereka yang sempat merasakan kejayaan MTV dan menikmati beragam video klip dengan konsep liar. Mulai dari yang bertema super hip hop sampai lengkap dengan dan penari latar. Tentu banyak elemen menarik yang membuat musik di sekitar tahun 90-an dan awal 2000 menjadi dan . Terlepas dari aransemen yang diramu untuk membuat lagu-lagu tersebut , kreasi video klip yang muncul kala itu mampu menstimulus imajinasi atau nuansa musik para secara tepat jitu. Bahkan tidak jarang pula koreografi yang dibuat khusus untuk suatu lagu menjadi sebuah agenda spesial di antara anak muda dahulu kala - karena siapa yang tidak tergerak untuk menghapal tarian di video klip Britney Spears - Oops!… I Did It Again.
Terkait dengan fenomena tersebut, 4 orang sekawan yang dulu bersekolah di San Francisco, Inka, Ames, Andri, dan Try melihat sebuah gerakan yang berkembang di sana - di mana sebuah acara tidak melulu bersifat eksklusif. Lalu mereka pun memutuskan untuk mengadaptasi tersebut ke Jakarta. Kami berkesempatan untuk mengobrol dengan mereka terkait alternatif yang mereka buat, yakni Videostarr.
Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat banyak alternatif muncul sebagai respons terhadap kejenuhan EDM di Jakarta. Sementara sebagian besar gerakan dalam eksklusivitas memainkan koleksi vinyl yang , kami mencoba untuk mengembalikan sifat inklusif dari sebuah .
Di balik gerakan yang bersifat , kami juga merasa bahwa genre yang dibawakan masih kurang beragam. Sedangkan, pada saat kami berempat kuliah di San Francisco, kami melihat bahwa di sana berani untuk memainkan berbagai macam genre musik tanpa pandang bulu. Berawal dari pengalaman itu, kami ingin menantang ide musik yang dianggap layak untuk di Jakarta saat ini.
Pada dasarnya, Videostarr itu sendiri menyuguhkan yang mengutamakan presentasi video/visual dan lagu-lagu yang terkurasi. Untuk acara Time After Time After Time, kami ingin mengangkat musik pop dengan unsur sebagai kunci utama. Berangkat dari konsep ini, kami ingin menantang publik akan atau tidaknya suatu lagu dan layak atau tidaknya lagu tersebut untuk diputar di . Selain itu, kita ingin menghadirkan nuansa nostalgia yang tentunya dan bisa dinikmati oleh banyak kalangan, mulai dari sampai Snapchat yang relatif baru di ini.
Untuk Time After Time After Time, fokus kami memang pada era tersebut, karena kami sendiri dan sebagian besar kami tumbuh dengan beragam video klip MTV pada era emas itu. Kami pernah membaca sebuah artikel mengenai musik berjudul Neural Nostalgia oleh Mark Joseph Stern, yang menyatakan bahwa para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa otak kita membuat ikatan terhadap musik yang kita dengar saat masa remaja lebih erat dari apapun yang akan kita dengar saat kita beranjak dewasa – hubungan tersebut tidak akan melemah seiring bertambahnya usia kita.
Musik nostalgia, dengan kata lain, bukan hanya fenomena kultural, melainkan perintah neuron. Dan tidak peduli seberapa selera kita saat beranjak dewasa, otak kita mungkin tetap mempunyai ikatan pada lagu-lagu yang kita dengarkan selama kita masih menjalani kehidupan remaja. Maka, secara subjektif tentu saja, menurut kami lebih video musik pop masa tersebut.
Di era digital sekarang, video klip masih relevan, tapi mungkin lebih -nya. Hanya mereka yang memang tertarik dengan visual yang akan untuk mengulik seperti apa sih video klip lagu yang mereka suka.
yang sebenarnya ingin diraih oleh Videostarr? Apakah seperti di video klip Salt n Pepa - Whatta Man?
Untuk Time After Time After Time, kami ingin atmosfer party yang dan yang terpenting , karena kami juga menyelipkan lagu-lagu yang biasanya hanya terdengar di ruang karaoke atau bahkan di kamar mandi. Faktanya, lagu-lagu seperti RATU - Teman Tapi Mesra dan Miley Cyrus - Party In The USA sukses menjadi di acara kami. Untuk ke depannya, kami ingin menjaga (baik dari seleksi lagu maupun visual) di setiap acara kami.
-
Bal-0
Rawdeal
Diskocok
Jum’at, 5 Mei 2017
The Safehouse
21:00
Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sukses menggelar acara tahunan mereka Parahyangan Fair dengan tema "Eclipsed" pada tanggal 24 April lalu di Bumi Sangkuriang Bandung. Berisi ragam hiburan tak terkecuali musik dari beberapa musisi besar Indonesia, seperti Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind, gelaran ini membuktikan bahwa UNPAR masih menjadi salah satu parameter wadah kreasi antara subkultur yang ada di Bandung.
Setelah Bandung, tur musik Defile akan menyambangi Jawa Timur, tepatnya Surabaya untuk terus menyebarkan konsep versi Dentum Dansa Bawah Tanah. Kembali membawa Django, namun kali ini ditemani oleh Sattle dan Baldi. Keduanya dikenal membuat sebuah unit bernama Batas Echo yang sejauh ini telah mengeluarkan 2 versi re-edit di akun Soundcloud-nya. Kami berkesempatan mengobrol dengan Sattle sebelum ia tampil di Surabaya untuk menanyakan tentang monikernya dan konsep Batas Echo.
Tadinya cuma mau membedakan moniker saat bermain drum & bass bersama Javabass. Jujur secara arti sih ya tidak ada sesuatu yang ingin diutarakan, kecuali menurut pribadi saya lebih gampang diingat saja dengan nama itu.
dan lagu?
Proses kreatif bisa datang dari mana saja. Biasanya datang atas dasar ketertarikan suatu hal, misalnya ada periode di mana saya sedang suka musik tertentu. Maka daripada terpendam, ya apa salahnya ditulis? Minimal jadi dulu -nya. Kalau lagi rajin, bisa sampai selesai. Tapi kalau tidak selesai, juga tidak apa. Ya anggap saja itu bagian dari proses pembelajaran. Semakin kita mencoba banyak hal semakin pula kita tahu diri kita seperti apa.
Awalnya karena hubungan pertemanan yang berlanjut ke ide untuk membuat suatu proyek musik, serta kekaguman kami terhadap karya Harry Roesli dalam album "Harry Roesli '83" berjudul "Batas (Echoes 1)" yang menjadi inspirasi kami untuk membentuk Batas Echo. Berangkat dari keisengan kami dalam re-edit lagu Indonesia lama yang nanti mungkin berkembang menjadi bentuk karya lain. Itu juga kalau Tuhan memberkati (tertawa).
Konsep re-edit yang kami tawarkan sebatas ingin menggubah lagu Indonesia agar bisa dimainkan oleh DJ, pada khususnya. Sekilas memang tidak banyak yang berubah dari lagu aslinya - hanya sebatas . Mungkin tantangannya ialah bagaimana mendapatkan dari lagu yang bagus secara kualitas suara dan dalam hal ini re-edit menjadi sesuatu yang sensitif terkait dengan hak cipta. Tetapi kembali lagi ke tujuan awal, jadi tidak ada salahnya berbagi sesuatu yang kami bisa lakukan untuk teman-teman agar bisa menikmati karya lama dari musisi Indonesia ke dalam dalam format re-edit.
Sangat antusias ketika menyambut tawaran dari pihak DDBT, karena ini bisa menjadi salah satu rekam jejak musik Indonesia; untuk lebih spesifiknya musik elektronik, setelah kompilasi Jakarta Movement yang sangat memorable bagi saya pribadi ketika pertama kali mendapatkan kasetnya.
-
Defile #4
Sabtu, 29 April 2017
The Goods Diner Surabaya
21:00
Django, Sattle, Baldi
Special guest:
Kylko, Sinatrya
Sebagai seniman senior, Dolorosa Sinaga telah memberi warna baru pada dunia seni, melalui karya patungnya yang mengangkat kesadaran tentang perempuan. Whiteboard Journal berbincang bersamanya mengenai posisi perempuan, posisi seni di masyarakat modern hingga hal-hal yang mengganggu benaknya sebagai seniman.