Dalam studio yang sepi, Danielle memainkan piano klasiknya. Tatapannya tenang seolah ia sudah bersiap menyalurkan emosinya sejak lama kala intonasinya perlahan menyibak kesunyian. Menjelang , Este mulai menimpali pondasi yang telah dirancang. Sedangkan Alana berupaya memenuhi bagiannya dengan kontemplasi distorsi yang minimalis sebelum akhirnya mereka menuntaskan klimaks; pukulan perkusi dan teriak pengharapan.
Gambaran tersebut merupakan garis besar dari terbaru trio asal Los Angeles, HAIM yang berjudul “Right Now.” Selain memiliki karakter kuat, “Right Now” juga ditunjang secara sinematik oleh Paul Thomas Anderson (PTA). PTA dengan baik menangkap makna nada yang termaktub; menyoroti keintiman melalui sederhana selama hitungan menit berjalan. Tak lebih, tak kurang.
“Right Now” menjadi bagian dari album penuh mereka bertajuk Something to Tell You yang rencananya akan dirilis pada bulan Juli mendatang. Memuat 11 (sebelas) nomor, HAIM masih membawa nuansa pop-rock yang menyegarkan. Jika dihitung, butuh waktu empat tahun untuk HAIM melepas rilisan kedua setelah Days Are Gone yang banjir pujian.
Jatuh hati tak mengenal situasi. Ia dapat lahir dalam bilik ketidakmungkinan, perkara ketidaksengajaan, ruang keraguan, di antara kepadatan ruas jalan, penduduk yang saling berkejaran menimbun masa depan, hingga gedung bertingkat dan rumah-rumah kumuh tanda kesenjangan.
Saajan Fernandes (Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur) adalah dua orang yang tak saling mengenal. Saajan bergelut dengan dunia akuntan dan rencananya untuk pensiun dari jabatan. Sedangkan Ila, hanya ibu rumah tangga yang berupaya mendapatkan perhatian dari suaminya. Sampai akhirnya, kotak makanan menghubungkan hari-hari keduanya.
The Lunchbox merupakan drama romantis yang mengisahkan ikatan personal dari tokoh yang melawan keadaan. Apabila kebanyakan alur semacam ini berujung klise yang mudah ditebak, tidak demikian dengan The Lunchbox. Menggunakan medium yang unik, mereka merekatkan hubungan hangat sekaligus intens. Bercerita tentang keseharian maupun kehidupan, lalu terbawa arus yang menghanyutkan perasaan di balik lezatnya samosa dan parata. пинап казино есть большое количество азартных игр. В лобби сайта можно найти более 3000 классических и современных слотов, которые поражают своей графикой и увлекательными сюжетами. Все игровые автоматы имеют отдачу до 98%, что позволяет гемблеру выигрывать yang terlampau memekakan telinga. Tapi dengan menyaksikan The Lunchbox, kita musti sadar bahwa India mahir dalam memainkan urusan sederhana yang sering terlewat di depan mata; dan kita tak pernah menyadarinya.
The Lunchbox (2013)
Sutradara: Ritesh Batra
Sinopsis:
XL Recordings merupakan sebuah kolektif turunan Beggars Group yang didirikan Nick Halkes, Richard Russell, dan Tim Palmer pada tahun 1989. Sempat mengalami reformasi genre yang dibawa di awal kemunculan, mereka berhasil melewati lintasan zaman sebelum akhirnya meraih kesuksesan. Melahirkan deretan musisi ikonik mulai dari The Prodigy, Radiohead, sampai Adele, berikut adalah beberapa album terbaik yang pernah dilahirkan XL Recordings.
We had to conduct this in English because our long friend apparently speaks eloquently in this language. Continuing the hype of Defile for the past 4 episodes, this time the crew will visit Yogyakarta’s scene along with local heroes - Django, Android 18, Moustapha Spliff and not to forget to invite Ones, Ffonz and SKS to stomp the dance floor. For those who know better, Ffonz and Moustapha Spliff are pretty much the same person. But who is he and why he remains mysterious since the first time he got back to Indonesia? We got a chance to ask some fundamental questions to reveal who he is.
Vinyl and cats? Let's start with cats. I basically grew up in a hippie-esque household where animals are able to come in and out as they pleased. Being Jakarta, these are mostly cats. So I always played with them as a kid. And when I was in Holland I used to cat-sit for friends before finally adopting a couple of cats myself. So yeah, there's this fascination from childhood. Plus they're strange and arrogant motherfuckers, something that weirdly endeared them to me.
As far as records are concerned, I bought them out of necessity. Because it was cheap. Back in 2002-2004, after leaving Manchester to live in Holland, I found that most of the CDs I was looking for (mainly Dylan, Bowie, Pink Floyd, etc.) were going for 10-15-20 Euros each, which was expensive for a student who cleaned toilets for a living. LPs were going for around 5 euros and EPs were 1 or 2 euros. So yeah, it's an economical decision.
Ffonz is me, the double F being a typo that I never seemed to bother getting rid of.
Moustapha's my cousin from Istanbul. He came here a couple of years ago in a container ship transporting garden chairs. It just so happens that he likes psychedelic rock as well as his native Turkish joints and other middle-eastern crackers.
Humphrey's an old neighbour of mine from when I was living in England, who moved to Jakarta a few months ago. He's a weird fellow. He considers marshmallows an aphrodisiac and likes to chirp like a bird every-time he's taking a dump.
Ah Red Light Radio (RLR), one of the funnest times of my life. I was lucky because I was introduced to the guys who were running it (Orpheu de Jong and Hugo van Heijningen) just as they set up the station. I was invited as a guest for another RLR regular called Future Vintage to be interviewed and spin in conjunction with that Those Shocking Shaking Days comp.That was my first ever appearance on the station.
Luck also had it that I was close friends with another RLR regular, Mark Cremins (aka Nose van Conk, Mark From Middlesex, Carl Cardigan), who was head distributor for Amsterdam's Rush Hour Records. Out of the blue he set up a slot for me at RLR, playing a jazz set with Mo Kolours. During that show Mark introduced me to Hugo and Orpheu, and being the nice souls they are, offered me a bi-weekly spot. Couldn't say no to that.
And all those cats I mentioned above had an extreme diverse taste in music. From weird disco to bizarre spoken word records, greek electronica, various shades of hard rock/metal/psych/prog, middle-eastern folk and pretty much everything in between. Plus listening to the other slots on the station just added to that. So yeah of course it opened my eyes and ears.
Interesting question as I never really pondered as to why. If I had to put my finger on it, I guess it's because I had a fascination with blues from a very early age. My dad used to play in blues bands so I was always drawn to the blue notes. I mean it's a style of music where the artists sounds sad and happy at the same time. How could you not love that?
Jazz in particular has a strong blues influence, with many of early jazz records pretty much being sped up blues music with 4 pounds of swing added into it. Plus stuff by Louis Armstrong, W.C. Handy, King Oliver and the likes had the name 'blues' within their song titles. St. Louis Blues, Potato Head Blues, Aunt Hagar's Blues, etc. And that blues influence in jazz stayed pretty much up till the 60s.
And all the other shades of Black American music I like, be it rhythm and blues, soul, funk, hip hop, disco, house, techno,etc. grew out of those two aforementioned genres. And what all these genres, from blues to techno and hip hop had in common was improvisation. Something else that attracted me from a very early age.
The ideal party? One where punters don't ask the guy playing records to "put on some R&B" all the fucking time.
-
Sabtu, 13 Mei 2017
Taphouse Beer Garden, Yogyakarta
20:30
Django
Android 18
Moustapha Spliff
Guest appearance:
Ffonz (W_Music)
Ones (Casual Dance)
SKS
Sex mungkin adalah wacana yang tabu bagi sebagian orang. Banyak yang menganggap hal keseharian tersebut bukan barang yang layak untuk dicermati. Dalam sejarah Yunani kuno dan seni rupa klasik, figur yang dihadirkan selalu telanjang, tetapi jarang yang secara langsung menggambarkan persetubuhan. Seks dan erotisme dalam literatur dari mulai Aristophanes sampai Marquis de Sade menyediakan ruang interpretasi atas kegiatan intim yang menunjang hidup peradaban manusia itu.
Adalah Alba Hodsoll, seniman muda asal New York yang mencoba memberi diskursus seks hari ini dengan menggelar sebuah pameran tunggal berjudul “PoV.” Ia mengambil judul sebuah genre dalam film pornografi “Point of View” di mana penonton seolah-olah menjadi partisipan langsung dalam sebuah film porno. Dalam eksibisi di Cob Gallery, London itu ia menampilkan seri karya lukisannya bersama dengan pemutaran film dokumenter tentang kelas melukis figur telanjang dan sesi di tempat.
Psikolog Sigmun Freud mengatakan bahwa mungkin kemanusiaan tidak digerakkan oleh sesuatu yang mulia tapi justru karena hasrat sex. Apa yang Alba tawarkan adalah romantisisme akan sex yang selama ini dianggap tabu. Lukisan yang ia buat adalah tiruan fragmen adegan persetubuhan dengan pemberian tekanan warna yang erotis: merah.
Ruang atas sex selama ini tertutup dan jika meneruskan apa yang pernah Freud bahas tentang seksualitas bahwa represi seksual seseorang bisa menentukan gejala psikologisnya ke depan. Apa yang Alba tawarkan adalah ruang terbuka untuk membicarakan dan melihat seks sebagai persatuan antara dua orang; atau lebih, untuk bersama bersepakat dan melebur pada tatanan yang setara.
Marvin V. Saliechan (The Colour Mellow, Rekah) dan Dylan Amirio (Logic Lost) telah berbagi proyek ambient dengan nama LL/TCM sejak 2013 lalu. Mereka telah merilis 3 dengan judul Colour Lost. Rilisan teranyar mereka "Morning Lights" bisa saja dibilang sebagai Colour Lost IV.
Ada jarak 4 tahun antara Colour Lost III dan Morning Lights. Di entitas ini terdapat tekanan gitar yang lebih berisik namun tetap mempertahankan kedamaian atmosfer ambient yang dibangun. Selain itu Marvin dan Dylan juga berbagi vokal pada beberapa lagu dan menjadikan EP ini sebagai satu-satunya yang baru memiliki muatan lirik di dalamnya.
Eksplorasi dua personel yang memiliki latar karakter musikalitas yang berbeda, berbaur dalam satu gubahan yang seimbang. Karakter gitar Marvin dan eksplorasi bebunyian Dylan disulam dalam satu bangunan ambient yang mengharuskan mereka mengatur nuansa damai. Ada siasat yang cermat dari pemilihan nuansa setiap lagu dan pemberian judul dalam entitas ini. Membaca karya ini akan sesederhana mendengarkannya.
Penyiaran Morning Lights sama seperti 3 EP lain yang sebelumnya yakni dapat dinikmati langsung lewat Bandcamp mereka.
Morning Light by LL/TCM