Two seemingly contradicting topics that aren’t supposed to be naturally related to one another. However, Japanese artist Yuki Kobayashi begs to differ by using sports as a platform for his art on sexuality. Believing that sports is an area where there are still constant racial and gender stereotypes, Kobayashi attempts to lead his audience into thinking of the body just as it is, not as a subject of classification by gender-divided clothes. He explains, “Let's just see it as a real body – this is what you’re hiding under the clothes you choose. It's a body and you can't choose how you're born. That's your original skin.”
Kobayashi also believes that sexuality should be more irrelevant in sports. Explorative and experimental as he is, he tries to challenge ideas that the mind has on the body through wearing female clothes for his art inhibition. Perhaps many would wonder, wouldn’t that turn him into some sort of a cross dresser? Wouldn’t it decrease his masculinity to some extent? And more similar questions that like it or not, becomes proof that society is still unable to separate one’s sex with simply their preferences; the clothes they choose to wear, the way they choose to behave, how they choose to engage in romantic and sexual relationships. On the contrary to these biases, Kobayashi believes that the body’s sex would not go through any change regardless of the gender that has been assigned to the clothes that the body wears. Therefore, he tries to explore any possibilities of clothes being more neutral, especially in sports.
His point may be proven relevant in a society where the human body is often not seen as an example of raw, natural product of biology. But rather, the body becomes a subject of a certain boy/girl label that further dictates how the body should behave. The question then remains; can society free its mind and begin to release the human body from the binding chains of gender classifications?
Kristen Stewart merupakan aktris yang berbakat. Dunia mengenalnya sebagai penerus tahta Julia Roberts atau bahkan Naomi Watts. Tapi sayangnya, ekspektasi publik terhadap dirinya terlampau berlebihan dan membuat karirnya naik turun; memainkan vampir amatiran, pemburu salju, dan tunawisma dengan penampilan biasa saja.
Seiring berjalannya waktu, entah dirinya sadar atau disadarkan, Kristen Stewart mencoba memulai karir aktingnya lagi dengan membintangi deretan film yang selektif. Bakat aslinya mulai muncul di The Cafe Society besutan Woody Allen di mana ia berhasil memerankan pengkhianat cinta bersama Jesse Eisenberg. Tak lama berselang, kebangkitannya membuahkan hasil ketika ia memainkan tokoh utama di Personal Shopper yang delusional sekaligus penuh ketegangan fiksi.
Personal Shopper merupakan film garapan Olivier Assayas yang menceritakan mengenai dinamika konflik kepergian dan penolakan atas kehilangan saudara tersayangnya. Stewart sukses menghidupkan dua dimensi bersamaan antara asisten selebriti ternama penuh gemerlap urban, serta seorang saudara perempuan yang menanti kedatangan kedua saudara laki-lakinya dari kematian tiba-tiba.
Di tengah usahanya berkomunikasi dengan sang saudara, berlimang tekanan psikologis kuat, rasa gelisah maupun was-was, ketegangan perlahan muncul; ia menerima pesan masuk dari orang asing yang mengetahui banyak tentang dirinya. Apakah itu memang orang asing? Atau jangan-jangan saudara kembarnya, Lewis yang menuliskan pesan? Tak ada yang pernah tahu.
Secara garis besar Personal Shopper berjalan menarik. Assayas bisa dibilang memasak bumbu konflik dengan takaran pas. Bagaimana ia memadukan kondisi realita dengan kepercayaan spiritual perihal kembalinya Lewis adalah kekuatan utama Personal Shopper, ditambah aksi Stewart yang mampu membantu memberi nyawa pada interpretasi naskah Assayas. Dan akhirnya kita harus mengakui; Stewart bisa memperoleh panggung penebusan kesalahannya di masa silam.
Personal Shopper (2016)
Sutradara: Olivier Assayas
Sinopsis: Personal Shopper bercerita tentang Maureen (Kristen Stewart), seorang gadis muda Amerika yang sedang berada di kota Paris, yang mencari nafkah dengan menjadi seorang ahli belanja pribadi untuk para selebriti. Namun dibalik itu, Maureen diam-diam merasa dirinya sedang mengalami kekuatan psikis sama seperti saudara laki-lakinya yang juga merasakannya, dan dia mulai menerima berbagai macam pesan dari sumber-sumber yang membingungkannya. (posfilm.com)
Dikenal sebagai salah satu penulis besar sepanjang masa, perjalanan Hemingway dipenuhi gelombang psikologis yang bergejolak. Hal tersebut dapat dilihat dari rentetan kreasi yang menggambarkan dinamika pribadinya hingga diakui Nobel, sebelum akhirnya mengakhiri hidup secara tragis. Whiteboard Journal memilih 8 buku terbaik karya Ernest Hemingway.
Sebuah gambaran akan mimpi buruk yang mungkin tidak akan menggerogoti jiwa kita dengan keresahan atau ketakutan setelah ‘bangun’ darinya. Namun, mimpi buruk tersebut hanya akan membuat kita berpikir dan bahkan terinspirasi. Melalui perilisan terbarunya "Hidup di Mimpi Buruk," Matter Mos mencoba menyuguhkan audiens dengan eksplorasi pribadinya mengenai mimpi buruk.
Yang bisa dikatakan unik dari hasil eksplorasi Matter Mos ini adalah interpretasinya akan mimpi buruk terinspirasi dari lukisan Guernica karya Pablo Picasso. Guernica sendiri adalah sebuah ilustrasi tentang kehancuran dan kekacauan dan gambaran akan kehidupan hari ini. Best Crypto Casino . It has everything you need to know about cryptocurrency, like news, live prices, crypto gambling, bitcoin casinos, and more
Setiap musisi memerlukan wadah untuk menyalurkan hasrat kreatifnya di luar proyek utama yang sedang dijalani. Selain untuk mencegah kebosanan akut karena bertemu dengan pola itu-itu saja, juga untuk memacu daya inovasi bersangkutan ke titik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Alhasil, banyak musisi yang membentuk proyek sampingan untuk sebatas bersenang-senang, mencari sisi lain, atau mungkin meneruskan keseriusan.
Hal tersebut rupanya dipahami betul oleh Francois J. Bonnet; musisi multitalenta asal Prancis yang dikenal sebagai pemegang kendali artistik Groupe De Recherches Musicales. Memanfaatkan momentum dan waktunya di luar proyek utama, ia merilis tiga buah komposisi (“Edelweiss”, “Glass Flowers”, serta “Oread”) yang menandai kemunculan album berikutnya.
Dalam proses kreatifnya, Bonnet menggunakan identitas pseudonym Kassel Jaeger. Sebelumnya ia tercatat sudah menelurkan seri album berjudul Fragments yang terdiri atas Fragments – Collected Sounds from Deserted Places, Fragments II – Collected Refrains from Lost Thought, dan satu lagi bakal dilepas di tahun 2018. Ketiga rilisan tersebut hanya dipublikasikan secara digital.
Komposisi yang diciptakan Bonnet merupakan lanskap penuh perenungan. Ia membangun nuansa kosong, sepi, kemudian mengisinya dengan melodi abstrak. Kekuatannya adalah keheningan-keheningan yang saling bergelantungan. Tak ada batasan, tak ada penyekat. Hanya Bonnet dan hantu-hantu bebunyian yang berpacu untuk disatukan di kepalanya.
Dibentuk pada tahun 2004, Beach House perlahan menapaki jalan keberhasilan yang teratur. Duo yang digawangi oleh Victoria Legrand dan Alex Scally ini bisa dibilang konsisten dalam merilis karya. Jika Anda perhatikan sejak 2006—katakanlah tiap dua tahun sekali—mereka pasti mengeluarkan album; mulai dari Beach House (2006), Devotion (2008), Teen Dream (2010), Bloom (2012), hingga Depression Cherry serta Thank Your Lucky Stars yang dilepas bersamaan di 2015.
Hampir keseluruhan album mendapatkan respon positif; kecuali Bloom yang agak kehilangan arah dan beruntung diselamatkan hadirnya track bernilai tinggi macam “The Hours” atau “Other People.” Tak kaget memang karena Beach House senantiasa berpegang teguh pada prinsip mematenkan dream pop yang elegan dan tak tergoda memindahkan haluan genre untuk sebatas menjustifikasi kemampuan.
Sampai akhirnya di tahun 2017, mereka kembali mengeluarkan rilisan dalam bentuk kompilasi bertajuk B-Side and Rarities yang rencananya dipublikasikan 30 Juni mendatang. Terdapat sepasang komposisi baru yang salah satunya berjudul “Chariot.” Bagian menarik, dalam video musik “Chariot”, Beach House mengangkat montase mengenai keluarga Kennedy dan pelbagai footage perjalanan dinas maupun rekreasi presiden fenomenal Amerika Serikat tersebut.
Vokal Victoria memenuhi ruang imajinasi dengan pengaturan loop yang sedemikian rupa. Ritme berjalan lambat seolah The Beach House menyediakan waktu kepada penonton untuk menyaksikan babak demi babak seorang Kennedy. Pelan, pelan, dan pelan layaknya cerita pengantar tidur yang dipaparkan malam hari. Tanpa kita sadari, di bawah atap gedung sinema dan layar proyektor, Beach House berhasil menyentuh sisi emosional perihal kehilangan.