Sebuah kelahiran kembali dari karya legendaris yang layak disimak. Sebagai sebuah ‘harta karun’ yang telah tersembunyi sekian dekade lamanya, Estorias Para Voz, Instrumentos Acusticos e Eletronicos yang semula dirilis tahun 1981 di bawah label Blume ini mungkin menjadi momentum yang dinantikan untuk kembali menjadikan karya elektroakustik ini sebuah sorotan. Sebuah komposisi dari berbagai bagian yang ‘multiwarna’, karya Oliveira ini memang mencakup begitu luasnya jangkauan emosi yang ingin disampaikan dalam tiap dentingan, dan menampilkan kompleksitas dari Oliveira sendiri yang menampilkan warna-warna multikultural, idealis, dan bebas.
Mungkin kini muncul pertanyaan akan kemampuan Estórias dalam menembus regresi dari dimensi perubahan oleh waktu. Meski begitu, kiranya memang harus ada optimisme lebih untuk menjawabnya. Komposisi elektroakustik yang disajikan Oliveira tidak hanya sebatas berhenti pada nada dan irama dari gabungan berbagai instrumen saja, namun merupakan realisasi dari kemampuannya dalam bercerita dan mengikutsertakan berbagai elemen sosial, seperti jejak-jejak suara dari komunitas imigran di Sao Paulo yang memang dijadikan sebagai salah satu inspirasi. Kemampuan Oliveira dalam menyatukan berbagai komponen berwarna ini kedalam alunan unik dan berkarakterlah yang mungkin menjadikan Estórias sebagai sebuah karya seni yang dirindukan. Ia bisa juga menjadi pembuktian bahwa seni memang tidak mengenal batas, baik batas peraturan, kultur, maupun waktu.
Loneliness is indeed beautifully captured in Mac Ayres’s "Lonely" single to be added to his upcoming EP, served with just the right amount of jazz and soul. A smooth-vibe sound that is further spiced up with the New York instrumentalist and producer’s vocals, the soothing beats and relaxed pace will certainly not keep the ears lonely. Even so, Ayres’s take on loneliness still may stir some emotions despite its gentle strides.
This song may be the needed chill-jam of the summer as a reminder to take it easy, and to slow down your pace. In spite of the theme it brings up, Lonely may actually be a good company for the soul. Ayres’s take on how jazz and soul should meet for the perfect summer treat definitely doesn’t disappoint, as Lonely only intensifies the excitement and anticipation for his EP, Drive Slow.
Nardwuar, the infamous Canadian interviewer meets with Indonesia’s viral rap sensation Rich Chigga to talk about rubik’s cubes, his neighbor’s goats, his former child-star sister, and finally his escalating carrier. By also presenting the teenaged Indonesian rapper with various gifts from a gangster-style ring to a record of tracks from Indonesian retro musicians, Nardwuar takes viewers to a deeper and more personal side of Rich Chigga.
Nardwuar's comedic approach and sudden burst of questions and information on the rapper’s previously unknown personal details certainly compliments Rich Chigga’s rather chilled and cool persona. Rich Chigga also explains his preference to rap in English rather than Indonesian, since he feels that it’s a better way of expressing things. Even so, the rocketing rapper’s constant gain of attention through the Internet still undoubtedly does one hell of a job bringing the Indonesian music scene into worldwide recognition.
Namanya mungkin hanya diketahui segelintir orang. Tapi yang ia keluarkan mampu membuat siapapun yang baru mendengarnya merasa "terangkat." Mungkin ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan rasa yang dimaksud, tapi jika ingin dipaksakan, sesungguhnya efek yang ditimbulkan para generasi hip hop sekarang - salah satunya Joe Million - tidak bisa dideksripsikan secara ajeg.
yang tergabung dalam trio Medium Rare ini baru saja mengeluarkan materi baru yang diberi judul "Ia Nanti." Menggunakan buatan produser asal Medan, Drop D Soundz dan lirik deksriptif tentang kebiasaan orang-orang yang cuma omong doang - respon klise seperti "iya iya, nanti ya" - lingkungan sekitar Joe sampai kebosanan hidup di kota.
Terasa kurang 'jalanan'? Video yang dibuat untuk melengkapi lagu ini diambil di tengah BKT (Banjir Kanal Timur) lengkap dengan dari David Yoku aka AYAW dan kemunculan , seperti JuTa dan Asto Panjaitan. Oh, buat para , tentu tahu betapa padatnya BKT pada malam hari dengan adanya pasar kaget. Ya, berantakan, tapi Joe bisa mengubahnya jadi Parc 19 - setidaknya di liriknya.
Karya terkini dari rock Individual Distortion ini telah dirilis secara digital pada 5 Juli melalui situs Bandcamp-nya. Sebuah hasil imajinasi yang diharapkan dapat menunjukkan sisi lain dari Individual Distortion sebagai sebuah hembusan nafas segar dari nuansa yang tidak dapat ditemukan di album-album sebelumnya. Selain mencakup beberapa karya orisinil dari Individual Distortion, “Irrelevant” juga berisi sebuah lagu dari band asal Amerika Serikat Snapcase yang bertajuk “Twentieth Nervous Breakdown”.
Dalam “Irrelevant” dapat ditemukan berbagai cerita dari Individual Distortion, seperti "The Witching Hour of Jakarta" yang menjadi tajuk bagi sebuah potret akan Jakarta sendiri. Diwarnai dengan kekelaman akan sisi gelap dari Jakarta, karyanya satu ini tentunya menjadi salah satu bukti bahwa “Irrelevant” tetap akan menjadi relevan bagi audiens. "The Witching Hour of Jakarta" dan beberapa tajuk lainnya menjadi sebuah pendatang baru bagi skena musik Indonesia yang mungkin dibutuhkan bagi para pencari orisinalitas dan eksplorasi akan sisi yang gelap dari realita sehari-hari.
Irrelevant by Individual Distortion
After 25 years of being in the rap-game limelight, Snoop Dogg certainly made a statement that he’s still not going anywhere anytime soon. With Neva Left, he shows the world just how he still has it going on, and that age certainly is never going to be a stopper for his edge and mark in the industry.
While containing some reminiscence of his old glory days through his street-style rhymes and the nostalgic record cover of him back in ’93, Snoop Dogg manages to keep it fresh by not giving in to the perhaps common temptation among aged rappers to try really hard to sound young or dodging his age. Perhaps this is how he still wins a place within the audience’s hearts; let’s face it, nobody wants to hear a cringe-worthy or try-too-hard attempt of sounding like a cool old guy. It can be heard just how he still has his boogie on in "Bacc in da Dayz," and how he’s able to incorporate his concerns on current social issues on "Lavender (Nightfall Remix)." Through the bounce of the playful beats and fresh lyrical intakes, Snoop Dogg certainly reminded his audience why he’s still so relevant.
Overall, Neva Left is definitely Snoop Dogg’s proof that despite the common misconceptions, age is but a number in the rap game, as long as you’ve got the right moves to stay on track. 25 years into the scene and still sounding fresh as always, Snoop Dogg really ‘neva left’ and won’t be leaving anytime soon.