With a little dose of magic here and there, apparently what once used to be an illegal sex shop is able to turn into an aesthetic art gallery. Albeit measuring as a rather ‘efficient’ space at just 20 square meters, “Cut” definitely deserves recognition with its impressive room division and soothing choice of tones. Intended to provide space and create an exhibition place out of the town itself, this gallery invites artists in residence as a part of the annual Koganecho Bazaar in Japan.
The gallery attempts to alter the perception of a hidden, negative activity into an open and positive one, and it’s certainly working. Persimmon Hills as the architect bureau responsible for the transition proves that a certain space’s soul heavily relies on the ambience and vibes associated with it. The wall dividing the two rooms of the gallery could almost be seen as an interpretation of how there are two sides to everything, including space, and it all depends on how one chooses to perceive it; positively or negatively.
Art is supposed to be about the rebirth of many emotions, and the alteration of what once was a negative perception of “Cut” into a welcomed one certainly proves it. The redefinition of what once was, and what it has the opportunity to become just goes to show how art is all about a play on perception.
Adegan dibuka dengan perputaran sosok anak kecil berambut pendek di bawah pantulan warna biru yang berlumur putih abu-abu. Sejurus kemudian, vokal Matt Berninger masuk secara perlahan ditemani ketukan Bryan Devendorf yang repetitif. Seperti biasanya, tekstur suaranya begitu berat dan cenderung datar namun di lain sisi menyimpan kharisma yang dalam. Lantas aliran rock yang sedikit mengalir setelahnya.
Kira-kira seperti itu gambaran video klip terbaru dari The National yang bertajuk “Guilty Party.” Track tersebut merupakan salah satu komposisi yang terdapat di album baru mereka, Sleep Well Beast. Didominasi yang cukup abstrak dan bergerak cepat di tengah sirkulasi seorang bocah hingga sepetak lapangan membuat “Guilty Party” seakan menyembunyikan banyak tafsir. Entah, hanya Berninger yang paham.
Rencananya, album Sleep Well Beast akan dirilis pada 8 September 2017. Memuat 12 nomor, The National menggandeng label 4AD sebagai partner pendistribusian. Namun pertanyaannya; apakah Sleep Well Beast bakal berujung layaknya Alligator (2005) yang penuh intimasi atau justru berpendar bak High Violet (2010) yang tak tertebak? Kiranya kita semua musti sabar hingga beberapa bulan ke depan.
The alteration of the notorious drug-lord’s mansion into a luxurious boutique hotel will certainly be inviting limitless attention to the result, which serves as an aesthetically-pleasing holiday destination displaying only art dealer Lio Malca’s impeccable taste within its walls and rooms. Located in Tulum, Mexico, the ‘Casa Malca’ estate was bought by Malca in 2012 and has since been on a journey to ‘come back to life.’
With its floors, walls, and spaces filled up with only chic decors, perhaps the temptation to marvel at its glamorous elements would make it difficult to imagine that it once belonged to crime-related big shot. Malca certainly has succeeded in redefining the space, reinterpreting it into a wonder-worthy home for art and returning its soul.
Apabila di wilayah barat kita mengenal pianis jazz semacam Bill Evans, Herbie Hancock, atau Thelonius Monk yang tersohor dengan nama besarnya, maka di kawasan Asia khususnya Jepang, sosok Ryo Fukui tak dapat dipisahkan dari telinga penikmat jazz kebanyakan. Kualitasnya jangan disangsikan. Jemarinya bebas berkehendak menguasai tiap bongkah tuts berwarna hitam putih dan menari lincah di atasnya.
Selama perjalanan bermusiknya, Ryo telah mengeluarkan lima buah album; Scenery (1976), Mellow Dream (1977), My Favourite Tune (1995), In New York (dibuat bersama Leroy Williams dan Lisle Atkinson pada 1999), serta A Letter from Slowboat (2015). Catatan di atas tergolong sedikit untuk ukuran pianis legenda sepertinya. Namun percayalah, keseluruhan karyanya adalah tonggak penting bagi perkembangan musik jazz di Jepang.
Dari kelima albumnya, Scenery dirasa menjadi titik monumental. Baik aransemen maupun instrumentasi yang ia gubah terdengar orisinil. Dibuat kala Ryo berumur 22 tahun, Scenery menggambarkan kejeniusannya dalam meramu komposisi jazz standar yang tak sebatas berpatokan pada notasi umumnya. Sesekali ia mengikuti arus ketika memainkan “It Could Happen To You” dan tak jarang pula ia meluapkan keliarannya tatkala mementaskan “Scenery.”
Meskipun keenam nomor di Scenery menarik disimak, bertajuk “Early Summer” tetap menyuguhkan atensi tersendiri di samping performa menakjubkan. sepanjang 11 menit ini membuktikan kapasitas seorang Ryo Fukui di mana ia menumpahkan segala rupa variasi dalam wujud kentalnya progresifitas di balik aroma blues hingga samba. Mendobrak batasan demi menciptakan sekelumit keindahan memang perlu; dan Ryo Fukui sukses melakoninya.
Suatu karya memang pasti memiliki makna. Entah terinspirasi dari apa dan dimaksudkan untuk mengilustrasikan apa, pasti makna itulah menjadi kunci penentu karakter dari suatu karya. Melalui yang belum lama dirilisnya, Haikal Azizi alias Bin Idris memiliki alasannya tersendiri untuk menyentuh isu sosial yang dirasa relevan kini. ‘Berbagi bumi, berbagi matahari’ seperti yang ia nyanyikan dalam “Rukun Warga,’ memang bermaksud membawa makna perdamaian.
Dengan alunan latar yang ringan dan dengan suara vokalnya sendiri yang menggema, pemaknaan di balik lagu ini memang dirancang untuk mengejar relevansi dalam realita kini. Melalui “Rukun Warga” juga Bin Idris mencoba untuk berkomunikasi dengan realita, untuk menciptakan sebuah dialog yang mempromosikan kerukunan dan mengembalikan sebuah sensasi ‘damai’ yang mungkin kini mulai sulit untuk dirasa. Dilengkapi dengan ilustrasi fotografi oleh Wahyudi Onggo yang diambil di tengah euforia demo Hari Buruh, lagu tersebut benar-benar menjadi sebuah karya bermakna yang secara akurat memampangkan sebuah potret sosial.
Tantangan demi tantangan yang memicu adrenalin dan mengundang kegelisahan sementara adalah tema yang hendak dieksplor melalui "I Dare You" oleh The xx yang disertai oleh video yang mengilustrasikannya. Dalam video klip yang di antaranya dibintangi beberapa artis ternama dari serial Stranger Things dan film Moonlight berdurasi 6 menit ini, tersajikan pengisahan yang lebih dari sekadar ilustrasi dari lagu. Semula bisa diduga sebagai sebuah karya film pendek tersendiri, usaha dan estetika yang ditangkap dalam video klipnya perlu diberikan rekognisi yang lebih.
Sebuah kolaborasi yang turut menggandeng Raf Simons dari Calvin Klein dan Alasdair McLellan, video klip ini menampilkan kisah pendek sekumpulan anak muda yang mencoba menaklukan tantangan-tantangannya sendiri. Kemampuannya untuk memikat perhatian sejak menit pertama mungkin bisa mendorong keinginan untuk melihat lanjutan kisahnya. Lebih dari itu, video ini bisa mengundang kita untuk merasakan segala kehangatan dari sebuah momen yang bisa membuat kita tergila-gila untuk menghidupkannya kembali dalam nostalgia di lain waktu.