Menunggu datangnya kembali program yang melegenda adalah upaya spiritual bagi para pendukung nomor satu. Menanti dengan sabar serta menebak kapan impian tersebut bakal terwujud. Sama halnya yang terjadi pada The League of Gentlemen. Setelah hiatus cukup lama, akhirnya kelahiran kedua mereka dipastikan akan terjadi dalam waktu tak lama.
Hal tersebut dibuktikan lewat ciutan Reese Shearsmith selaku penulis utama dalam akun Twitter-nya. Reese menyatakan sedang antusias menyusun naskah keberlanjutan The Leage of Gentlemen. begitu ia berkata.
The League of Gentlemen mengisahkan tentang kehidupan warga di suatu desa bernama Royston Vasey. Acara ini melejit pertama kali kala mengudara melalui BBC 2 pada rentang tahun 1999 dan 2002 sebelum difilmkan utuh tahun 2005.
Selama The League of Gentlemen berjalan, berbagai penghargaan berhasil diraih, antara lain memenangkan BAFTA, Royal Television Society Award, dan dikenal sebagai tv show yang menyediakan lelucon gelap maupun sarkas.
Banyak memprediksi The League of Gentlemen yang baru, bisa bergulir menyenangkan karena kehadiran sosok Steve Pemberton. Asumsi itu bukan tanpa dasar mengingat Pemberton dikenal berhasil membesarkan Inside No. 9 di mana mempunyai kadar kegelapan nan adiktif layaknya The League of Gentlemen.
Sekilas, mungkin tidak terduga ada apa sebenarnya dibalik album terbaru dari Bottlesmoker. Namun, sebuah telaahan lebih jauh akan menemukan suatu kompilasi kisah mengnai keharmonisan yang ada dalam alam semesta, yang isinya sendiri tergabung dari berbagai sudut di Indonesia. Pasalnya, dalam penyatuan materi demi Parakosmos Anggung Suherman dan Ryan Adzani dari Bottlesmoker berkolaborasi dengan seorang etnomusikolog asing dalam melakukan field recording atas berbagai kesenian dan alat musik daerah. Sebuah harmonisasi asli atas keberagaman dan kekayaan semesta di Indonesia inilah yang bisa ditemukan hasilnya dalam Parakosmos.
10 judul di dalamnya merangkum perjalanan yang diceritakan dalam Parakosmos, dimana berbagai dimensi dari unsur yang menjadikan semesta dirayakan, mulai dari keberlawanan yang mewarnai semesta hingga perannya dalam menjadi seimbang dan menjadikan harmoni. Dengan mencakup pula beberapa motif dan pola permainan musik daerah hingga motif Tarawangsa untuk menghasilkan ritme yang repetitif, barangkali perjalanan menjumpai berbagai lapisan semesta Nusantara ini juga bisa dirasakan para pendengarnya.
Jika ada yang mampu menggabungkan pesona Interpol, The Fleetwood Mac, sampai Wilco dalam satu waktu, maka kuartet indie-rock asal Brooklyn bernama Big Thief adalah jawabannya. Berlebihan? Mungkin saja. Akan tetapi tahan segala keraguan dan segera dengarkan saja keseluruhan lagu mereka. Terlebih pada Masterpiece (rilis di tahun 2016) yang menunjukan bahwa kualitas mereka memang berbahaya.
Kali ini, di album terbarunya bertajuk Capacity, Big Thief menampilkan kesan berbeda. Apabila di Masterpiece mereka menumpahkan keresahannya secara kolektif, di Capacity porsi sang vokalis Adrianne Lenker lebih mencolok. Hampir semua lagu mengisahkan guratan kegundahannya; depresi, ingatan masa kecil, hingga relasi dua kutub yang membingungkan. Dibalut begitu personal ditambah capaian vokalnya yang getir sekaligus lantang membuat kita berasa mendengarkan jalinan cerita satir.
Lagu-lagu terbaik Capacity dapat disimak lewat “Great White Shark” yang penuh kontemplasi, “Mythological Beauty” yang membaurkan distorsi kasar bersama lirik sensitif, atau “Black Diamonds” yang sarat penyesalan di samping menyimpan harapan layaknya nostalgia. Baik Buck Meek, Max Oleartchik, maupun James Krivchenia kiranya sepakat membuat komposisi yang proporsional guna menemani letupan emosional Lenker merupakan prioritas. Dan hal tersebut berhasil dituntaskan.
Capacity adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan Big Thief pasca melepas Masterpiece. Mereka tak terjebak melankolia ketika meramu hal-hal bersifat pribadi dalam naungan mesin efek, melodi minimalis, hingga gebukan drum yang teratur. Rasanya tak terlampau terkejut tatkala di masa depan mereka meraih nama besar karena dua hal utama sudah dilakukan; album berbobot serta konsistensi tiada bertepi.
Jika kita menyimak adanya segala dinamika dan perkembangan yang mewarnai skena musik Indonesia, maka akan sulit untuk mengabaikan munculnya sebuah tren kolektif baru yang mulai marak penikmatnya dari berbagai kalangan lokal. Kolektif asal Bali, Project23 menjadi salah satu kolektif baru yang muncul dengan cerita menarik.
Hadir dengan konsep ‘menyembunyikan’ siapa sebenarnya wajah dan identitas di balik semua talenta yang akan ditampilkan, proyek ini mencoba menyuguhkan suatu pendekatan baru dalam menilai suatu karya secara objektif. Project23 juga akan menjadi suatu eksplorasi berbagai lapisan genre musik yang mewarnai skena lokal, termasuk melodisasi dari sebuah suara. Dengan munculnya suatu keresahan akan adanya sebuah diskoneksi dari segala unsur kreativitas lokal yang memerlukan sebuah payung pemersatu, kelahiran konsep unik inipun dibarengi rencana merutinkan proyek besarnya, dan beberapa proyek dari waktu ke waktu di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut lagi, Project23 mencoba mengembangkan massanya untuk menyediakan suatu wadah demi meningkatnya rekognisi akan talenta lokal. Lewat berkreasi dalam berbagai bentuk aktivitas unik guna menciptakan suatu gerakan dan budaya kreatif yang baru, kolektif ini memberikan ruang gerak bagi talenta-talenta lokal yang tersembunyi dan membesarkannya di skena lokal.
Project23 akan mengadakan installment pertamanya berupa pada 2 September mendatang dengan menampilkan segelintir musisi elektro dan DJ lokal seperti Zat Kimia dan Pariwisatan.
Facebook
Instagram
Apa jadinya jika seseorang harus melepaskan segala hal yang ia punya untuk menjalani hidup lebih sederhana - lebih minimalis? Itulah premis yang dibahas dalam sebuah film dokumenter berjudul Minimalism. Mengingat paham tersebut sebenarnya telah diaplikasikan oleh para biksu terdahulu, nyatanya kini minimalisme dalam konteks modern membutuhkan usaha lebih besar.
Dokumenter yang menyajikan paham atau gaya hidup minimalis ini hadir dengan ragam “teks,” mulai dari mereka yang hidup sendiri, berkeluarga, hingga yang hanya hidup dari 2 buah Adanya dari kondisi Black Friday dan bahkan ketika Apple membuka toko untuk meluncurkan iPhone terbaru menunjukkan bahwa publik terbiasa untuk hidup konsumtif dan membeli hal yang mereka anggap penting walau nyatanya mereka tidak atau belum membutuhkannya. Ironis menjadi kata tepat yang bisa menggambarkan kondisi publik hari ini, berdasarkan refleksi hidup para “minimalist” di film ini.
Selain menggambarkan akar dari konsumerisme, lewat Minimalism, penonton juga akan dihadapi dengan penjelasan logis dari para pakar dan peneliti yang membuktikan bahwa hidup minimalis dapat meningkatkan hubungan sosial antara sesama hingga kesehatan seseorang. Walau terdengar klise dan mungkin pengambilan sikap untuk hidup sederhana ini baru muncul jika seseorang dihadapi oleh sebuah masalah, tidak ada salahnya untuk mencoba mengesampingkan komentar orang - karena sesungguhnya tidak ada memperhatikan ketika Anda hidup selama 3 bulan dengan 33 buah saja dan pergi ke kantor untuk bertemu banyak kolega.
Minimalism: A Documentary About the Important Things (2016)
Sutradara: Matt D'Avella
Sinopsis: Bagaimana caranya hidup Anda jadi lebih baik dengan sedikit barang? Minimalism: A Documentary About the Important Things membahas segala hal tentang minimalisme dengan membawa penonton ke dalam hidup para mulai dari keluarga, arsitek, seniman, jurnalis, peneliti dan bahkan mantan Wall Street yang mencari makna hidup lewat minimalisme. (rottentomatoes.com)
Setelah mengalami masa kejayaan di tahun 90-an, hip hop kembali menyemarakkan skena musik Indonesia. Hadir dengan warna baru dan didukung dengan tren subkultur yang ada, hip hop hari ini mampu merepresentasikan para emerging artist yang ingin menyuarakan kegundahan dan menunjukkan passion dalam bentuk karya padat referensi.