Portofolio adalah salah satu fitur pada kolom Focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Akronim dari Surabaya yang melihat desain grafis sebagai alat interaksi yang disampaikan dengan sederhana, lugas, dan tidak misleading.
Pernahkah membayangkan, bagaimana jadinya jika keindahan ilustrasi dari kartu-kartu tarot direalisasikan ke dalam dunia nyata? Barangkali seperti Taman Tarot karya seniman Niki de Saint Phalle inilah wujudnya. Terletak di Tuscany, Italia, realisasi dari imajinasi liar Saint Phalle ini menghiasi kehijauan pedesaan Capalbio di sekitarnya dengan warna-warna berani dan bentuk-bentuk yang seperti keluar dari mimpi.
Sebanyak 22 patung yang terinspirasi karakter-karakter dari kartu tarot yang mayoritas berwujud sebagai dewi-dewi dari fantasi Saint Phalle ia buat dalam skalal besar. Terbuka untuk umum sejak 1998, patung-patung di taman ini memang dibuat untuk merayakan feminitas atau kewanitaan. Pengunjung yang datang dan seolah meninggalkan realita dan memasuki dunia mimpi yang dilahirkan oleh Saint Phalle ini dapat menemukan beberapa karakter tarot raksasa seperti Magician, The High Priestess of Intuitive Feminine Power, Strength, dan masih banyak lagi.
Sebuah suguhan yang mungkin menjadi sangat menggiurkan tidak hanya bagi yang ingin merasakan semangat feminitas Saint Phalle yang dikombinasikan dengan kemampuannya melukiskan sebuah dunia fantasi, namun juga bagi pecinta tarot yang ingin merasakan realisasi dari dunia magis tersebut. Mungkin, kemagisan dari kewanitaan yang tidak bisa hanya dilukiskan dengan satu warna sajalah yang ingin ia sajikan bagi umum lewat dunia kecilnya ini.
terbaru dari album Oscar Lolang yang akan segera dirilis pada Agustus mendatang, Drowning in a Shallow Water ini tidak hanya kental dengan nuansa folk dan instrumental minim yang diimbangi dengan vokal lantang namun syahdu darinya, namun juga akan ironi dan kompleksitas dari ibu kota yang digambarkan di dalamnya. Barangkali tiada yang bisa benar-benar menerka bahwa tembang folk ini ialah karya lokal yang mengisahkan Jakarta saat Oscar menyanyikan di akhir lagu.
Segala ‘warna’ yang dirasa pas menggambarkan Jakarta tercurah di dalam lagu “Clouds of Jakarta” ini; kebencian, kerinduan, tawa, dan tak lupa juga kesenjangan yang mungkin memang menjadi pengingat siapapun akan Jakarta. Kemampuan sang ibu kota dalam memikat namun tanpa menawarkan kehangatan, menurut Oscar, adalah hal yang menyebabkan “Banyak hal-hal yang masih tidak bisa saya sentuh, dan saya sudah tenggelam di sana (Jakarta).” Barangkali, menenggelamkan diri dalam tembang terbarunya ini, terlebih bagi pecinta nuansa musik ala Bob Dylan atau Simon & Garfunkel, adalah yang dibutuhkan untuk bisa memasuki relung lebih dalam dari berbagai fenomena yang melanda ibu kota.
Sebuah pameran yang digelar oleh ROH Projects ini menampilkan sederet hasil karya seniman Filipina, Gary Ross-Pastrana yang bertajuk Clock Map Knife Mirror dan mengeksplorasi makna dari sebuah ketidaksengajaan. Memperhatikan pajangan dari sejumlah karya Pastrana pada pandangan pertama mungkin memberi kesan keacakan yang sulit bisa berhubungan satu sama lainnya. Namun, jika ditelaah lebih jauh dengan memberikan perhatian lebih pada tiap bagiannya, mungkin ada benang merah yang bisa ditemukan.
Ada sepotong marmer dengan sendok kayu yang disediakan untuk mengairinya. Ada setangkai bunga mawar di atas sebuah penyangga akrilik yang dihiasi serbuk glitter. Hingga sebuah lukisan piring retak di ruangan berbeda. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata marmer yang dialiri air tersebut ialah guna mempraktekkan sebuah teknik memotong marmer dari Tiongkok menggunakan air saja, yang memang membutuhkan waktu lama. Setangkai mawar tersebut ternyata dibuat dari kulit manusia yang mengelupas, yang dibumbui serbuk glitter guna melihat pengaruh riasan terhadap sel tubuh manusia. Dan lukisan piring pecah tersebut ternyata bukanlah piring pecah, melainkan piring yang ditempeli helaian rambut untuk bermain dengan persepsi penyimaknya.
Satu karya yang mungkin langsung menyita perhatian ialah sebuah bagian kaca depan mobil yang sudah retak dan diselubungi dedaunan yang menjalar. Sebuah referensi dari sepotong buah pikiran Pastrana yang tertera di tembok di depan pintu masuk, yang menjelaskan ketersimaannya akan bagaimana sesuatu bisa ‘diambil’ kembali oleh alam, seperti sebuah mobil terbengkalai misalnya, yang keterbengkalaiannya menandakan kerusakan dan kehancurannya. Namun di waktu yang sama ketika kehancuran yang mungkin tidak direncanakan itu terjadi, sebuah permulaan baru bisa muncul darinya.
Dan begitulah serangkaian karya Pastrana lainnya, yang tidak hanya kental dengan ketekunan Pastrana dalam bereksperimen dan cukup jenaka untuk mengecohkan pemahaman siapapun yang menerka maknanya, namun juga menunjukkan bagaimana banyak ketidaksengajaan yang bisa menghasilkan sebuah karya seni. Clock Map Knife Mirror pun ‘berkisah’ tidak hanya mengenai bagaimana seni bisa muncul dari elemen-elemen yang tidak diinginkan dan bahkan dihindari, namun juga bagaimana suatu kehancuran justru memampukan terjadinya suatu ‘perjalanan’ baru.
-
14 Juli - 2 Agustus 2017
Selasa - Minggu, 11:00-19:00
ROH Projects
Equity Tower 40E
SCBD Lot 9
Jl. Jenderal Sudirman Kav 52-53
Jakarta
Kembalinya festival seni media dari OK.Video pada tahun ini dibarengi dengan tema ‘pangan’ yang menurut Direktur Artistiknya, Mahardika Yudha, merupakan “peluang eksplorasi artistik melalui perspektif seni media dan pemanfaatan kemajuan teknologi saat ini.”
Dengan mengundang sederet seniman lokal seperti Agung Kurniawan, Bakudapan, Syaiful Garibaldi, dan lainnya, serta seniman internasional seperti Cooking Sections asal Inggris, Asuncion Molinos asal Spanyol dan masih banyak lagi, tim OK.Video berupaya untuk menelusuri dampak dari strategi pangan sejak masa Orde Baru terhadap lingkungan masyarakat Indonesia hari ini.
-
OK.Video 2017
22 Juli – 16 Agustus 2017
Gudang Sarinah Ekosistem
Jl. Pancoran II Nomor 4, Jakarta Selatan
Instagram
Penantian panjang bagi penggemar tokoh di balik buku sajak ikonik “Milk and Honey,” Rupi Kaur, kini akhirnya mendapat jawaban. Sebuah karya sajak terbarunya yang bertajuk “The Sun and Her Flowers” telah diumumkan tanggal rilisnya, yakni pada 3 Oktober mendatang.
Kini kembali diramaikan dengan ilustrasi karya tangan Rupi sendiri, “The Sun And Her Flowers” akan mengandung sejumlah puisi yang dibagi ke dalam lima bagian, membahas tema-tema seperti penghiburan seusai kehilangan, pengembangan diri, hingga menemukan suatu ketenangan di dalam diri sendiri.
Dengan kemampuannya menyulap emosi sehari-hari ke dalam sajak-sajak singkat yang cantik, Rupi memang membuat para pecinta literatur tergiur dan akhirnya terpikat pada “Milk and Honey.” Dan akhirnya penantian sedemikian lamanya untuk kembali mendapat asupan atas potongan-potongan kata yang mampu ia harmonisasikan dengan begitu lembutnya dapat berakhir juga.