
Sunlotus: “Ini sebenernya masih bisa disebut shoegaze nggak ya? Tapi, yaudah lah bodo amat.”
Kami berbicara dengan Sunlotus tentang beban eksotisme sebagai band dari Blora, budaya encore di panggung-panggung Asia, sampai shoegaze yang datang layaknya rezeki.
Words by Whiteboard Journal
Words: Rajan Nausa
Photo: Agung Hartamurti
Jika hidup diibaratkan roda yang berputar, shoegaze (terutama dalam kurun waktu belakangan ini) seakan berdiri di atas roda tersebut. Distorsi berlapis dan reverb yang mengawang terus menemukan bentuk barunya, menjalar dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sunlotus, dengan tafsirnya sendiri yang berakar dari musik keras, telah membentuk identitas yang kian utuh sambil menelisik ruang tersembunyi dalam diri melalui album terakhirnya: Behind Closed Doors (2025).
Kami berbicara dengan Sunlotus tentang beban eksotisme sebagai band dari Blora, budaya encore di panggung-panggung Asia, sampai shoegaze yang datang layaknya rezeki.
Album pertama kalian, This Old House (2019), tepatnya di lagu “Heatstroke,” terdengar pergeseran yang cukup besar ke arah suara yang lebih keras dan eksperimental. Apa yang memicu transisi itu di tengah album dan bagaimana keputusan tersebut mempengaruhi album Behind Closed Doors (2025)?
Made: Album This Old House (2019) merupakan album konsep, yang berarti memiliki alur cerita atau narasi yang berkesinambungan antar lagu. “Heatstroke” menjadi titik di mana narasi di album tersebut menjadi lebih intens, yang berimbas kepada bagaimana lagu tersebut memiliki nuansa yang lebih ‘keras’ dari pada nomor lainnya.
Pun, ketika itu, saya dan Dzul (Gt.), merasa tidak afdol kalau tidak menyertakan 1 lagu yang bertempo dan memiliki beat drum lebih menyentak dibanding lagu-lagu lainnya—mengingat embrio proyek band ini, sebelum memutuskan bermain shoegaze, berbentuk band hardcore ke arah mathcore.
Tapi ketika itu saya berpikir, rasanya tidak seru juga kalau hanya mengandalkan uptempo beat, gitu kan? Bagaimana caranya memberi twist, supaya tidak terdengar… ‘biasa saja’? Nampaknya di sini sih, ke-snob-an saya terhadap membuat komposisi lagu mencoba menjadi ‘nakal,’ mencoba bermain chord mayor-minor, salah satunya, yang kemudian menjadi trademark kami dalam mengomposisi aransemen sampai sekarang. Banyak pendengar tidak menyadari ‘kenakalan’ kecil tersebut, tapi sebenarnya impact-nya dalam terhadap komposisi tersebut. Sebagai contoh, ketika part bernyanyi “This barren land has nothing for me” itu kami bermain di chord D-F#m-G, lalu disusul solo gitar dari Dzul yang berimbas nuansanya dari sedih menjadi besar karena berubah nuance chord–nya, menjadi D-F#-G. Detil kecil, tapi krusial. Dan itu tepat, at least bagi saya, dalam konteks lirik di part tersebut dan intensitas lagunya di dalam keseluruhan album This Old House (2019).
Namun, seingat saya dulu, semua itu terjadi secara natural. Setiap lagu dalam album This Old House (2019) ini selesai dalam sekali latihan 2 jam. Semua komposisi tercipta di dalam studio. Jadi, ketika kami masuk dalam ruang latihan, kami asal genjreng aja, nggak ada yang dibawa dari rumah. Semua aransemen dalam lagu tersebut terjadi cepat sekali. Ada 5 track lagu dan 1 noise kan? Nah, ketika itu kami hanya berada dalam studio latihan selama 6 minggu. Tiap minggu 1x, 1 lagu. Jadi hanya berapa lama tuh? 1,5 bulan? Beberapa komposisi tambahan dilakukan ketika rekaman secara spontan, kayak isian fill Dzul di lagu “Heatstroke” tadi, solo di lagu “Sunroof Shelter,” bahkan “Perseverance.”
Oh ya, lagu bonus cover “Silver” dari Jesu juga spontan pas rekaman. Jadi, sebenarnya unsur eksperimental di dalam album ini sudah banyak ada, nggak hanya di satu lagu tersebut.
Saya pikir, karena dari awal juga kami sudah semacam memberi stance yang jelas soal gaya bermusik kami, tidak hanya pada output lagunya, tapi termasuk di dalam etos brainstorming dan gaya kami beraransemen, jadinya itu selalu memengaruhi kami sampai dalam pengkaryaan album Behind Closed Doors (2025).
Secara nuance memang album Behind Closed Doors (2025) lebih introspektif ketimbang album pertama kami, jadi dalam aransemen lagunya berasa lebih straightforward secara struktur tata lagu. Tapi kami tetap menghadirkan twist di dalam lagu-lagu di album tersebut. The devil lives in the details.
Made pernah bilang kalau budaya konservatif di Jawa sering mempengaruhi cara menulisnya. Sejauh mana pengaruh budaya tersebut membentuk musik Sunlotus, terutama dalam menghindari jebakan template shoegaze ‘generic’?
Made: Jujur, saya lumayan lupa akan pernyataan tersebut secara eksaknya, tapi saya rasa, apa yang ingin saya luruskan dan sampaikan adalah: budaya konservatif tersebut justru bukan memengaruhi saya secara positif atau menjadi disiplin saya. Justru sebaliknya.
Saya rasa, dasar dari roots kami bermusik juga berperan besar. Jadi latar belakang musik kami kan sebenarnya berbeda-beda, kayak Dzul sendiri mulainya dari hardcore, terus Bagus (Dr.) juga ada band death metal, aku juga beragam, gitu. Nah, ketika kami memutuskan untuk bermain musik yang ranahnya shoegaze, itu hanya menjadi dasar template kami, dasar kanvas kami lah. Tapi, untuk mewarnai kanvas itu, kami mencoba eksperimen sebanyak-banyaknya. Itu juga mungkin yang aku coba tautkan ke filosofi—mungkin bukan filosofi—tapi banyak orang Jawa yang menjalani hidup dengan cara:
‘nrimo ing pandum,’ menerima dengan apa adanya.
Untuk kami, kami tidak sepenuhnya bisa seperti itu, tidak bisa se-konservatif itu. Jadi hidup ini adalah progres bagi kami. Dalam hidup ini kami mengalami banyak hal, kami menjalani banyak hal. Itu juga yang akhirnya menjadi dasar kami memiliki pengaruh terhadap apa yang kami dengar dan kami ciptakan.
Bagus: Lebih ke nggak mau apa adanya.
Made: Kadang kami ketika—bukan kadang tapi malah mostly ya—ketika kami di studio bikin musik, selalu berasa ada yang kurang. Akhirnya, yaudah coba di-push lagi, kulik potensinya. Akhirnya malah kayak, ‘ini sebenernya masih bisa disebut shoegaze nggak ya? Tapi, yaudah lah bodo amat.’
Bagus: Eksperimentasi aja.
Made: Tapi, seenggaknya kami ada dasar template-nya itu, gitu.
Dan saya rasa roots utama shoegaze itu sebenarnya memang eksperimentasi, karena lahirnya dari situ, kan?
Penggawanya pun—yang paling umum, My Bloody Valentine, Slowdive, Swervedriver atau The Jesus and Mary Chain—dasarnya dulu dari eksperimentasi kan. Nggak tiba-tiba ada template shoegaze. Jadi, saya rasa kami juga terus mewarisi semangat itu.
Eksperimentasi dari yang tadi disebutin juga sebenarnya beda-beda kan. Swervedriver kayak gimana, Slowdive kayak gimana.
Made: Iya, dan akhirnya itu menjadi sebuah diskursus baru, kan? Kayak: ‘Ini MBV shoegaze apa?, ini Slowdive shoegaze apa?’. Jadi kayak ada shoegaze plus genre lain. Atau kayak, ‘Jadi ini mana yang sebenarnya shoegaze, which one is the truest?’ gitu, kan? Tapi kalau kami bodo amat karena dasar-dasarnya yang kami percayai adalah eksperimentasi.
Bahkan sebenarnya, ketika kami sedang garap album ini, saya lebih banyak mendengarkan band prog macam Opeth, Steven Wilson, King Crimson, dan mencoba mendengarkan kembali Pink Floyd. Kadang juga dapat inspirasi karena mendengarkan sesuatu yang random, tidak disengaja, seperti cuplikan sebuah jazz lesson atau demo pedal di YouTube Shorts, terus kepikiran ‘nakal’ itu tadi. ‘Eh, diselipin unsur gini seru kali, ya?’ Melihat track ke-8 kami, “Behind Closed Doors” itu ada 2 stanza, metode yang sering digunakan band prog malah. Di situ bermacam elemen coba kami campur aduk tuh. Ada bagian di mana transisi jadi clean, lalu gaya bernyanyi saya berubah menjadi lebih baritone, dicampur dengan beat reggaeton. Shoegaze enough? atau malah jadi band prog? Hahaha. Atau di mana kami membuat track instrumental, “Pathway of Souls” yang sebenarnya ide awalnya adalah karena saya menonton video drum cover lagu “Almost Easy” dari Avenged Sevenfold, di mana drummernya pakai 2 bell ride kanan-kiri. Ya, akhirnya jadi kepikiran ‘Wah! Bisa nih!’ Campur aja udah atau tabrak sana-sini. Eksperimen. Shoegaze nggak hanya melulu bicara akor 7 kok.
Juga, sebenarnya juga kebanyakan musisi udah nggak peduli mereka main di spesifik genre apa sih ya?
Dzul: Iya, tapi aku pikir pengkotak-kotakan genre di DSP itu ikut bentuk ini sih—karena memang fungsinya untuk memudahkan user, jadi ya itu lebih untuk membantu pendengar.
Sebagian besar materi di album Behind Closed Doors (2025) sudah ada sejak 2023, namun banyak hal yang berubah sejak saat itu (dari pergeseran geopolitik, perubahan selera musik, hingga dampak media sosial). Bagaimana proses penciptaan album ini berkembang selama waktu tersebut?
Bagus: Awalnya kami menghabiskan waktu dalam studio itu untuk mengisi waktu kekosongan dalam waktu satu tahun. Setelah merekam Fever (2023), ‘Ada waktu kosong nih sampai akhir tahun.’
Made: Jadi supaya tetap menjadi menjaga moral dan motivasi kami, kami workshop terus.
Bagus: Ya, ke studio rutin hampir seminggu dua kali, bikin lagu aja, disimpan, jadi demo, sampai akhirnya di 2024 mulai dikurasi.
Made: Akhirnya kami mendapatkan tema, terus kami lihat kembali demo-demo yang telah kami tulis, itu ada sekitar 16 atau 17 lagu. Kami kurasi, kami lengkapi. Sebenernya proses rekaman itu agak lama, itu berlangsung dari Agustus 2024 sampai Februari 2025. Proses rekamannya pun juga terpotong-potong karena kami ada beberapa agenda tour dan panggung ketika itu.
Di mana hardisk yang berisikan 17 demo lagu itu?
Made: Masih ada. Mungkin nanti berpotensi jadi extended track, atau mungkin jadi materi-materi yang kami rasa, “Oh! Ini bisa buat split album atau mungkin jadi EP baru” gitu, sehingga kami bisa lebih terfokus kepada tema yang lebih besar—dalam artian album.

Photo by: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Ngomongin soal tema, “Self Bondage” menggambarkan pencarian untuk mengisi kekosongan batin, sementara Behind Closed Doors (2025) mengeksplorasi ruang tersembunyi dalam diri. Ketika menulis lagu-lagu di sini, seberapa kalian merasa seperti telanjang? Bagaimana rasanya menyelami kedalaman tersebut?
Made: Mungkin untuk ini, karena saya yang nulis lirik dan ini mostly memang dari POV saya, memang saya akui, ini salah satu posisi di mana saya merasa paling telanjang. Memang sangat raw banget, di sini saya menumpahkan segala curahan isi hati tentang apa yang selama ini saya yakini, secara spiritual juga. Sebenernya album ini sangat spiritual bagiku. Ini adalah POV saya dalam memandang sisi spiritual saya. Jadi, meskipun telanjang, saya nggak semata-mata melihat ini menjadi sebuah pornografi—dalam artian sebuah bentuk ketelanjangan yang eksplisit secara langsung. Anggaplah kita melihat ini sebagai nude art.
Banyak balutan metafora yang saya coba tulis di situ. Kalau saya rasa kalau orang yang memang mengenal saya dalam, secara dekat banget pasti tahu apa yang sebenarnya saya bicarakan. Seperti struggle menghadapi depresi beberapa kali, pertanyaan mengenai eksistensialisme, nihilisme, pergulatan batin soal relasi terlepas terhadap siapapun itu. Sangat personal.
Bagus: Saat nulis Behind Closed Doors (2025) ini, saya lebih ke push the limit secara musikal. Karena banyak hal-hal yang saya belum pernah coba sebelumnya–main perkusi, bikin lagu eksperimen. Jadi kayak saya banyak belajar saat menulis album ini.
Di album terbaru,2 kalian juga mengambil arah komposisi yang lebih ‘pop’ dibandingkan sebelumnya. Apa yang jadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ini?
Made: Mungkin salah satu bentuk eksperimentasi kami adalah mencoba menulis komposisi yang arahnya lebih pop. Tadi di awal saya jelaskan bahwa kami latar belakangnya beragam dan mostly dari pergerakan musik yang lebih ekstrim sebenarnya—hardcore, death metal, you name it. Jadi kalau ditelisik, sebenernya eksperimentasi itu bisa dalam diri juga: “kami orang yang biasa main musik ekstrem, bisa nggak sih nulis musik yang lebih pop?” Itu alasan dasar pertama kami, itu salah satu bentuk eksperimentasi juga bagi kami.
Maksudku gini, ketika orang ngomong eksperimentasi, mostly mungkin arahnya ke bentukan yang abstrak, harus noise, power electronics, you name it. Itu fine, tapi nggak melulu eksperimentasi itu arahnya ke dekonstruksi. Jadi, bagi yang biasanya ke arah ekstrem, terus coba ke arah yang lebih konstruktif, itu salah satu bentuk eksperimentasi, at least itu yang kami percayai.
Eksperimentasi sebetulnya subjektif ya.
Made: Terus alasan kedua, dari sisi kami sebagai musisi, kami rasa ingin membuat komposisi dan karya suara yang lebih—apa ya bahasanya? Aku nggak mau bilang rapi, karena main death metal pun juga harus rapi. Mungkin lebih refined?
Mixing yang lebih bersih itu nggak melulu jadi komersil—tetap bisa ear-pleasing dan tetap sesuai dengan idealis kami. Nggak melulu yang arahnya ke bersih itu komersil. Nah, itu juga yang sebenarnya jadi bagian dari eksperimentasi.
Sering disebut-sebut sebagai band asal Blora (di headlines media), bagaimana kalian melihat pengaruh eksotisme ini terhadap musik kalian dan apakah ada beban tersendiri untuk mewakili identitas Blora dalam karya-karya Sunlotus?
Dzul: Sebenernya nggak [jadi beban]. Tapi memang, di awal kemunculan misalnya, di awal kemunculan itu emang rasanya karena kami berdua, saya dan Made, juga sebenarnya lebih lama berprosesnya di kota lain [terlebih dahulu], Made di Jogja, saya di Semarang. Jadi, apa ya? Waktu awal kemunculan itu emang ada [beban], karena jarak. Blora itu bisa dibilang kota kecil yang jarang dikunjungi, banyak orang yang nggak tau Blora.
Made: Kayaknya ketika pertama kami berproses di Blora, kami tidak memikirkan sedalam itu soal eksotisme. Kami pertama menyebut band ini dari Blora, ya karena memang semata semua proses songwriting dan brainstorming ketika itu ada di Blora. Ya ketika saya dan Dzul sedang pulang kampung di Blora. Pun, di awal sebenarnya proyek ini terbatas hanya untuk proyek rekaman. Dan ini saya sampaikan juga ke label awal kami, Hema. Tidak terbayang ketika itu dari kami untuk menjadi band yang live atau sepanjang ini. Memang sempat ada terlintas kepikiran untuk memasukkan unsur-unsur yang lebih tradisional, seperti suara gamelan atau kolaborasi dengan penyanyi Tayub, karena ketika itu saya lumayan sering ada di lingkungan seni tradisional. Tapi ketika merujuk ke album This Old House (2019) ketika itu, unsur-unsur itu kurang tepat kami masukkan.
Saya tidak suka memasukkan sesuatu yang tidak ada faedahnya di dalam hasil rekaman. Comical boleh lah, jika dalam konteks yang tepat. Nah, dari pada dipaksakan memasukkan unsur tradisional tadi sebagai balutan eksotisme, saya memilih tidak karena konteksnya kurang tepat ketika itu. Next time? Mungkin boleh kami coba.
Respons dari warga Blora? Pernah nggak main di sana?
Made: Sejujurnya kami malah belum pernah main di Blora sama sekali. Jadi, di Blora—dari apa yang saya perhatikan—pergerakan musiknya, mostly masih terfokusnya secara dominan di musik ekstrem. Dalam artian: hardcore, punk, death metal, black metal gitu lah. Jadi, yang arahnya indie pop atau rock alternatif itu, dari penglihatanku (lagi), nihil.
Ketika kami memutuskan untuk membuat band ini, saya malah tidak terfokus untuk mempromosikan diri di kota Blora-nya sendiri, karena kemungkinan besar ketika kami membuat show di sana, nggak akan ada orang yang akan datang karena tidak ada ketertarikan ke arah sana.
Jadi, ketika album pertama keluar, kami mempromosikannya ke titik-titik yang lebih vital di Indonesia. Bahkan sebenarnya, ini bisa saya bisa bilang jadi beban juga, ketika kami berdua memutuskan membuat band ini, kami sangat kesulitan dalam mencari member. Kalau saya, secara vital, untuk kompos musik saya perlu drummer. Ketika itu, Dzul nyoba mencarikan temennya, ketemu namanya Wiwit Nugroho. Dia kawan kami yang mengisi album This Old House (2019) sebagai drummer. Wiwit ini latar belakangnya drummer reguler, dalam artian dia biasa isinya wedding, cafe, gitu. Jadi, pengetahuan musik dia Juga bisa dibilang awam soal musik-musik shoegaze. Ketika saya tanya, “Kamu tahu nggak musik-musik di band-band di Indonesia yang sidestream apa?” Kalau nggak salah ingat, dia hanya bisa menjawab Barasuara, yang saya rasa masih dalam kategori cukup umum. Ini konteksnya bukan perkara saya ingin menjadi snob terhadap orang lain, tapi ini juga untuk saya bisa mengimbangi dan cari cara dikarenakan berkenalan dengan rekan baru, kondisi baru. Untungnya dia punya semangat yang tinggi juga untuk belajar hal baru, meski di awal dia lumayan kebingungan untuk mengisi drum nya, akhirnya saya turut mengaransemen komposisi drum nya juga lewat mulut dan gesture.
Itu menjadi kesulitan kami di awal—kalau konteksnya adalah beban, diluar si eksotisme tadi.
Behind Closed Doors (2025) melibatkan beberapa kolaborator, seperti Logic Lost, Amanda Putri, sampai Stephania Shakila. Apakah kolaborasi seperti ini sudah direncanakan sejak awal, atau justru muncul secara alami setelah lagu-lagu mulai terbentuk?
Made: Biasanya kebiasaan kami itu, ketika rekaman, kami sudah punya konstruksi semacam, ini intro-nya, verse-nya, chorus-nya, interlude. Biasanya kami sudah punya konstruksi-konstruksi seperti itu ketika akan dibawa ke studio rekaman. Musik udah jadi, baru nulis lirik. Nah, ketika udah kebayang, baru kita kurasi siapa yang kira-kira tepat untuk menjadi kolaborator di lagu tersebut.
Sebenarnya kalau saya pribadi, yang paling unik itu yang dengan Tesla Manaf, di lagu “Glacial.” Lagunya tentang perasaan kehilangan yang sebenarnya tidak dapat didefinisikan. Ketika saya diskusi itu dengan Tesla, saya minta dia isi trumpet. Dia (Tesla) jelasin, “Mas, trumpetku ini udah rusak, nggak bisa di fine tune.” Ya, karena dengan agendanya Tesla dan Kuntari yang sangat padat, sering di jalan dan dia juga main eksperimen. Nah terus di situ, aku bilang, “Mas, itu malah perfect karena ini memang saya pengen menceritakan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan.” Ibaratnya guci pecah, dilem pun tetap kelihatan itu pecah. Akhirnya dia ngirim, dan sesuai sama yang diharapkan. Saya tidak minta sesuatu yang indah.
Sebenarnya kami hampir selalu membebaskan ke kolaborator—termasuk ketika Christabel Annora mengisi vokal di EP Fever (2023). Kami arahkan: “Mbak, silakan mau diisi di bagian manapun terserah, silakan respons aja.” Termasuk isian pianonya, bahkan kami nggak kepikiran akan ada isian piano, dia yang inisiatif.
Di Behind Closed Doors (2025), ada Stefania, Amanda, Dylan dari Logic Lost, termasuk Tesla juga, kami nggak pernah mengarahkan, “Eh, lu teriakannya yang gini dong!” Lebih ngasih tau aja, “Oh, part kalian di sini, coba direspons dengan yang kalian rasa cocok.”
Bagus: Tapi nanti akan ada selalu review dan ada koreksi minor.
Setelah banyak manggung di berbagai tempat, Hanoi, Singapore, sampai ke Guangzhou dan Wuhan pada 2025, bagaimana pengalaman panggung internasional itu mempengaruhi perkembangan Sunlotus, baik dalam segi musikalitas maupun sebagai band secara keseluruhan?
Made: Dari musikalitas pasti, karena kami banyak menemui band-band lain yang warna musiknya macam-macam. Jadi kami tersaturasi. Ketika melihat scene musik Indonesia, misal tahun 2015, sebutlah shoegaze lagi trend. Mungkin ketika itu shoegaze-nya sama semua di sini, tapi bisa jadi di negara sebelah variasinya beda. Jadi akhirnya itu yang menjadi sebuah asimilasi budaya bagi kami.Kiblatnya tuh bisa jadi beda banget padahal sama-sama main shoegaze.
Itu akhirnya memotivasi kami juga untuk—sesuai yang tadi jawaban seperti yang jawaban di awal-awal tadi—mendorong limit-limit kami. Ternyata main musik tidak melulu harus pakai template yang ada di kebanyakan masyarakat.
Shoegaze nggak melulu harus mutlak hanya akor 7 aja, atau hanya terbatas pada diskursus ‘fuzz dan reverb,’ Itu satu.
Yang kedua, dengan terus rutin tur, apa lagi keluar, kami jadi lebih memahami dan belajar soal manajemen band dan logistik tur. Apa yang krusial, apa yang membuang waktu dan energi. Karena ketika kita sedang berada di negara asing, kita berada di wilayah teritorial hukum, etika dan norma yang asing juga. Kami belajar adaptasi. Kami menjadi lebih disiplin. Karena juga ketika kami tur, kami berangkat hanya member saja, biasanya plus satu kawan yang bisa berperan sebagai road manajer atau merch guy. Jadi kami gak punya opsi lain selain untuk mendisiplinkan diri dan memiliki kalkulasi yang lebih matang.
Beberapa kali juga ketika kami main di luar, ada penonton yang ternyata adalah media, pemilik record label, promoter lain, direktur atau kurator festival yang tidak kami ekspektasikan kedatangannya. Spontan aja mereka datang. Biasanya seusai kami selesai manggung, kami segera beberes, lalu istirahat sebentar di green room 1-2 menit, lalu bergegas menuju merch table. Kenapa? Karena di situ biasanya fans-fans baru berkumpul dan menjadi tempat untuk kami bisa reach out ke mereka. Ini juga sebuah custom yang kami pelajari ketika tur keluar dan ini krusial. Bahwa, most of them akan membeli merch selesai kita manggung.
Karena di kebanyakan waktu, kita nggak tahu lho siapa aja di situ yang merasa terkesan menonton kita dan ingin memberi apresiasi. Sebagai contoh: terakhir kami main di Bangkok, usai turun panggung, nongkrong di merch table, ada seseorang yang ternyata direktur festival di sana. Dia langsung ngajak kenalan, beli merch, lalu bilang “You will play at my festival next year. Deal?” sambil ajak jabat tangan. Terlepas itu beneran deal atau nggak, kami tetap menyambung komunikasi dengan dia.
Atau ketika kami main di Shanghai, terjadi pecah mosh pit dan orang crowd surfing, yang kemudian kami pelajari bahwa dari banyak penonton tersebut mereka bilang bahwa:
‘It’s the first time somebody played shoegaze and people went nuts with it!’
Kesan-kesan dan komentar tersebut terlontar ke kami ketika kami ada di merch table. Mereka excited kok ngobrol dengan kita. Kalau respon kita baik, kita mampu membaca ruangan, dan mencoba merespon baik ke mereka, hasilnya juga akan baik.
Dan nggak disangka, ada penonton yang merekam momen tersebut dan di-post ke Rednote (sosial media China) dengan judul ‘Indonesian Javanese created Shanghai’s most chaotic shoegaze scene’ dan menjadi sedikit viral di sana. Jadi, untuk poin ke-3 ini, main lah secara maksimal, totalitas, and be nice with new people, talk with them.
Apa hal dari scene mereka dan kalian rasa kita harus bawa ke scene lokal?
Made: Encore. Hampir tidak pernah kami alami selama main di Indonesia, sampai akhirnya, di 2023, kami shock saat mendapatkan permintaan encore saat manggung di luar. Itu yang kemudian jadi bahan evaluasi kami juga, kami coba perhatikan bagaimana biasanya band-band luar itu selalu taruh encore di penghujung acara. Dari situ, kami mulai taruh encore di setlist kami.
Dan benar aja, di 2024, dari 5 shows di luar negeri yang kami dapat, 3 dari 5 meminta encore. Di 2025, dari 7 shows, kami mendapatkan 4 encore.
Kami juga akhirnya nanya ke band kawan-kawan, ‘Kalian pernah nggak sih diminta encore saat manggung di Indonesia?’ dan jawabannya sama, yaitu tidak.
Kayak semalam, saat manggung bareng Wisp di Krapela. WISP itu bilang ‘This is our last song’ sampai 3 kali. Asumsi kami, Wisp menunggu adanya permintaan encore itu, tapi penonton nggak ada yang minta. Karena saat selesai acara, kami lihat setlist mereka, ternyata mereka memang mempersiapkan encore di sana.
Jadi, mungkin penonton Indonesia memang pemalu, atau belum terbiasa dengan budaya meminta encore ke musisi.
Dzul: Nggak ada yang trigger juga mungkin.
Made: Karena bagiku, meminta encore itu adalah bentuk apresiasi yang tinggi terhadap musisinya. Encore itu part of the show, di mana crowd jadi bagian vital di pertunjukan. Sebuah interaksi dua arah. Apresiasi untuk penampil, juga penggemar.
Ada niatan untuk bawa budaya encore ke dalam negeri?
Dzul: Nah, mungkin itu fungsi WBJ untuk meng-amplify.
Rekomendasi band shoegaze Asia?
– Pale Air (China)
– Death of Heather (Thailand)
– Telever (Thailand)
– heavëner (Malaysia)
– the world ends with you. (Malaysia)
– Floral Bone Girl (Myanmar)
– Megumi Acorda (Filipina)
– Blush (Singapura)
– Nosedive (Singapura)
– Seventeen Years Old and Berlin Wall (Jepang)
– KILDREN (Jepang)
– Luby Sparks (Jepang)
Kita masuk ke pertanyaan terakhir, aku liat tertulis di banyak produk merch dari Sunlotus: ‘Shoegaze saved my life.’ So, how did shoegaze save your life?
Made: Kalau bagi saya, gimana shoegaze menyelamatkan hidup itu… apa ya? Shoegaze menyenangkan hidupku sih.. Dia memberikan sebuah experience dan dunia baru bagi saya. Karena saya mulai main musik kayak gini sebenernya berawalnya dari saya membantu ANNIE HALL di 2017-2018. Bisa sampai di titik ini, di tanggal 2 Februari 2026, itu menghadirkan dunia yang tidak pernah saya ekspektasikan dari selama saya bermain musik.
Karena banyak penonton baru juga, saya merasa banyak yang mengapresiasi, dan itu membuat saya lebih berterima kasih, lebih mensyukuri, dan memiliki motivasi yang lebih dalam hidup dan berkarya.
Dzul: Shoegaze berupa teman baru. Rezeki—entah itu bernilai apa uang atau dan yang lain. Emang nggak bisa dipungkiri, banyak rezeki atau hal baik yang datang dari karena aku berproses bersama Sunlotus.
Bagus: Saya baru sama Sunlotus main musik pelan, dan menurut saya, main musik pelan lebih susah, secara harus jaga tempo dan lain-lain. Eksperimen lagi-lagi. Terus juga, bisa membawa saya ke dunia baru, dan memperkenalkan ke banyak orang. Kayak sekarang ini, saya bisa di Whiteboard Journal.



