
Jan (ZIP): “Kita perlu pelan-pelan menggeser pemahaman, terus pertanyakan lagi ‘apa itu hardcore?’, biar jadi renungan bareng buat scene.”
Kami berbincang dengan Jan (ZIP) tentang apatisme kolektif yang muncul akibat media sosial, ruang aman di gigs, sampai cliffhanger untuk rilisan berikutnya.
Words by Whiteboard Journal
Words: Rajan Nausa
Photo: Agung Hartamurti
Merayapi gigs kecil yang gaduh hingga panggung festival besar, hardcore seakan kembali menemukan momentumnya di beberapa tahun belakangan. Dibensini lanskap sosial-politik yang kian riuh, musik keras lagi-lagi (dan akan selalu) menjadi medium katarsis sekaligus artikulasi keresahan kolektif warga.
Lewat Model Citizen, ZIP kembali menghantam – sembari membedah pesimisme, repetisi hidup urban, dan pertanyaan tentang apa artinya menjadi “warga ideal” di sistem yang terasa makin absurd.
Kami berbincang dengan Jan (Vo.) tentang apatisme kolektif yang muncul akibat media sosial, ruang aman di gigs, sampai cliffhanger untuk rilisan berikutnya.
Dari Self Titled (2021) ke Model Citizen (2025), apa hal yang paling berubah di cara lo dan ZIP memandang kemarahan?
Dengan banyaknya fenomena sosial-politik dan iklim politik yang terjadi di negara kita tercinta, rasanya semuanya jadi lebih mengerucut. Kalau dulu di Self Titled (2021), itu lebih kayak kemuakan gue yang general, yang gue tuangin ke lirik. Setahun kemarin, momentumnya pas—timing-nya tepat.
Gua liat banyak hal terjadi: soal 17+8, penanganan bencana, dan lain-lain. Jadi, di Model Citizen (2025) sebenarnya rasa dasarnya masih sama, tapi cara nyampeinnya beda.
Kalau di Self Titled (2021) gue pakai lebih banyak diksi, di album ini gue lebih main repetisi. Liriknya nggak banyak, tapi gue ulang-ulang buat memastikan pesannya nyampe. Kayak udah kebentuk: ‘Oh, gaya gue mungkin di situ,’ secara pendekatan lirik. Dan ujungnya ya merespons kejadian di sekitar.
Apa repetisi ini nyambung dengan tema urban yang ZIP ambil di Model Citizen (2025)?
Bener. Karena gue ngerasa hidup di kota itu kayak paralel dan siklus. Gue pribadi ngerasa hidup di urban, dan mungkin banyak orang juga, it feels like a cycle. Jadi, berasa kayak trapped in limbo, dengan segala macam simulasi tentang keseharian yang kita jalani gitu. Kadang itu juga bentuk kritik, ke diri gue sendiri juga.
Kita semua ada di tengah konstruksi kota, dikondisikan dari titik A ke titik B. Dari situ muncul kejengahan, rasa jenuh— dan album ini menjadi luapan dari itu. Karena pendekatan di Self Titled (2021) ada pendekatan tonal, tapi di Model Citizen (2025) gue lebih punya clear idea tentang titik jenuh dan repetisi hidup urban itu, dan itu karena itu repetisinya kerasa di tiap track.
Album ini bicara soal ‘gagal’ menjadi warga ideal dan kekerasan yang hadir lewat rutinitas tadi. Sejauh mana sebenarnya kegagalan itu diperlukan untuk memahami dunia saat ini?
Keresahannya udah lama ada. Cuma memang banyak pemantiknya datang dari luar, terutama lingkungan sekitar gua, teman-teman, termasuk kalian yang konsisten menyuarakan itu. Gua juga punya sahabat di Bandung, namannya Nishkra, yang suaranya sejalan soal fenomena sosial dan lanskap politik kita.
Gua nyebutnya the great pessimism. Kata ‘great’ yang harusnya positif, kalau disandingin dengan ‘pessimism’, jadinya paradoks yang kita jalani.
Kita pesimis banget, seolah nggak ada kabar baik. Bahkan ketika pengen baca kabar baik, rasanya tetap kalah, jadi overwhelming.
Kita seperti overwhelmingly defeated di banyak sektor. Dari situ Model Citizen (2025)jadi semacam dorongan untuk mempertanyakan lagi: ‘warga yang ideal itu seperti apa?’
Kita berhak pesimis melihat kondisi negara. Kita nggak harus selalu dipaksa optimis. Di album ini gua justru pengen kasih sorotan ke pesimisme. Repetisi, great pessimism, trauma kolektif—itu yang gue coba salurkan lewat Model Citizen (2025).
Track “Intro” seperti memberi pengalaman dengar sinematis di tengah medan konflik. Lo juga sinefil. Kalau ZIP bisa isi soundtrack film, lo kebayangnya film apa?
Gua pengen ngisi film bertema anti-perang. Bisa anime atau film layar lebar. Gua kebayang sesuatu yang brutal tapi kuat, kayak Incendies (2010). Gue juga suka film samurai lama, kayak Throne of Blood (1957) atau Rashomon (1950). Film-film yang ada petualangannya, tapi lebih kental rasa putus asanya.
Gue sempat kebayang, ‘seru juga ya bikin konsep soundtrack buat sesuatu yang gelap, soal crime dan corruption.’ Kayak Batman mungkin? Album ini juga rasanya cocok masuk ke suasana itu kayak noir, gothic, gloomy.
“Pawn” dan “The Pack” menyinggung pergeseran dari rasa sakit personal ke sesuatu yang kolektif. Menurut lo, kapan rasa sakit itu bisa menyatukan, dan kapan justru malah menceraiberai?
Tujuan gua dari collective pain dan pesimisme itu semoga bisa jadi semacam action plan, mungkin sesuatu yang bisa ditindaklanjuti. Kita perlu mengapresiasi orang-orang yang turun ke jalan, tapi mungkin juga perlu ada yang bisa menembus level kebijakan yang lebih tinggi.
Karena gua sering ngerasa ada kekuatan yang berusaha memecah kita, padahal tujuannya sama: membuat mereka bertanggung jawab. Tapi ,mereka sering ‘lolos’, dan kita balik lagi ke titik awal yang hopeless.
Gua nggak tau apakah itu harus lewat ‘revolusi besar’ atau apa kayak French Revolution, tapi pesimisme kolektif bisa berubah jadi optimisme kolektif. Banyak orang yang benar-benar melakukan ini buat perbaikan. Gua mungkin kontribusinya kecil, tapi musik adalah cara gue berkontribusi buat ‘kecemasan kolektif’ itu.
Hardcore itu juga tradisinya ‘unity’. Gue banyak ter-influence band-band Boston hardcore. “Glue” dari SSD (Society System Decontrol), itu temanya tentang sticking together, friendship—itu yang kemudian mau gue translate ke “The Pack.”
Sebenernya ada banyak track yang pessimistic, tapi in the end—kayak di “The Pack”—itu agak optimistic. Overall it’s all gloomy and doomy gitu, tapi somehow gue pengen ada a bit like, you know, there’s still hope, gitu.

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Speaking of, ruang aman di gigs sering diperdebatkan, terutama setelah beberapa kejadian tragis yang terjadi. Apa tanggapan kalian terhadap claim: ‘ya namanya juga hardcore’?
Gue lihat itu sebagai apatisme kolektif yang makin di-amplify sama media sosial. Akses orang ke hardcore jadi ‘lebih mudah.’ Dampaknya: banyak yang kehilangan obsesi tulus ke hardcore. In a way, gue ngerasanya people are kind of losing their genuine obsession soal hardcore.
Dulu, kalau gue obsesi, gue pengen tau akar sejarahnya: band ini tentang apa, konteks sosial-politiknya, siapa orang-orangnya. Sekarang ada yang obsesinya melenceng: datang ke show demi konten, demi viral. Dan gue sering mencoba menyuarakan kegelisahan itu.
Hardcore punk itu bukan ignorance, bukan apathy, justru kebalikannya.
Hardcore itu musuhnya apatisme. Dan menurut gue, kita perlu pelan-pelan menggeser pemahaman, terus mempertanyakan lagi ‘apa itu hardcore?’, ‘apa itu punk?’. Biar jadi perenungan bareng buat scene.
If you yourself could define hardcore, what would it be then?
Apa ya? If you let me yap for like 2 hours it’s gonna be like makalah with so many chapters, tapi kayak—
The floor is yours.
Buat gue, hardcore dari awal itu komunal. Kita bikin sistem kita sendiri, dengan spirit DIY. Ada kolektivitas, ada pertemanan, ada rasa unity yang benar-benar dipraktikkan, bukan slogan.
Hardcore juga soal obsesi budaya dan sejarah, tentang myth dan legend-nya. Kalau lo benar-benar peduli, lo bakal ‘geeking out’ soal itu. Makanya, gue seneng kalau liat pendengar muda yang obsesinya ada di jalur yang tepat—mereka masa depan.
Bukan cuma bikin band lalu melabeli ‘hardcore’. Yang membedakan itu konteks, sejarah, perjalanan. Di ZIP, gue juga banyak ‘membedah’ referensi, mulai dari lagu favorit, struktur, dan detail, biar kita tau akar dan prosesnya.
Speaking of today’s generation, we have to bring them up: Turnstile. Banyak yang lihat mereka sebagai penyelamat hardcore dengan sound yang melintas genre, visual yang ‘cerah’, dan lain sebagainya; sebagian lainnya bilang itu terlalu jauh dari akar hardcore. Di mata ZIP (yang pada album ini tetap berpijak pada 80’s hardcore punk), bagaimana kalian melihat hal ini?
They’re doing their own thing, which is good. Mereka udah nyebrang kapal ke teritori lain, seperti Coachella dan segala macam. Good thing mereka berangkatnya dari scene yang memang circuit-nya kecil—DC, Maryland— karena memang membernya juga di Trapped Under Ice dan Angel Du$t.
Mereka tuh timingnya disaat hardcore lagi on the high banget gitu, trend wise. Mereka ngelakuin itu, dan it feels fresh. Walaupun, mereka emang bergeraknya tuh udah lumayan beyond the roots lah.
Tapi, memang banyak band yang masih operate within the roots. Sebenernya, contohnya kayak ZIP yang masih operate within the roots—walau, gue suka play around with the elements. Kalo lo notice di “Intro,” “Intermission,” dan “Outro” itu ada elemen-elemen gue mainkan, just so it doesn’t feel flat. Tapi tetap, we recognize the roots of what we’re playing.
Menurut gue sih sah-sah aja ya. Balik lagi, back to the obsession gitu. You gotta know where it started. Jangan dari titik A lo langsung ke titik B. Lo harus tau journey-nya. Buat Turnstile, before they arrived on that point, you can see the evolution of their music gitu kan. Dari awal EP, LP, sampai yang dia collab sama Blood Orange. People have to understand the process.
Tadi lo sempet mention “Outro,” yang juga menurut kami, cukup keluar dari pakem hardcore dengan bunyi-bunyi jazz dan segala macamnya. Sejauh mana eksplorasi bentuk dan bunyi-bunyian masih bisa disebut hardcore menurut lo?
Kalau gue ngeliatnya ya, “Outro” itu in spirit, bisa dibilang hardcore. Karena feels like it’s still me, in a sense. Tapi, I wanna make something yang fresh dan nggak terlalu jauh dari tema Model Citizen (2025), gitu. Makanya pilihan gue jatuh ke RMP, which is my good friend di Divisi 62. Gue selalu suka karya-karyanya mereka.
Secara cinematic quality, mungkin “Outro” itu feels like you’re riding into the unknown and the uncertainty. It feels like you’re still in the process of driving and you don’t know where to go.
Jadi masih cliffhanger?
Cliffhanger is correct, dan itu intended banget. Kalau lo bisa ngeliat ada sentuhan free jazz, and jazz in a sense kan improv. Then you try to break the pattern, dan gue pun sebenernya nggak tau selanjutnya akan kayak gimana gitu. Karena I feel like di Model Citizen (2025) ini, gue punya liberty to play around with my taste.
Gue insists on having some sort of like ‘sound narrative’: Dari “Intro,” ke “Intermission,” napas, hajar lagi with the high, and end it with like a huge question mark. Waktu kami ngobrol, kami pikir, kayaknya kalau berakhir di “The Pack” akan oke, tapi we wanna have something yang: ‘Okay shit, wait a minute.’
“Outro” kinda carries us into the darkness. We just keep on pushing and keep on driving. Sedikit ada existential crisis-nya. Gue selalu suka film yang ending-nya tuh ambiguous, so maybe subconsciously, itu yang gue terapkan di “Outro.” Gue selalu suka the idea of something that you cannot pinpoint exactly or grasp. Kayak, ‘Oh, okay. Where do we go from here?’ gitu. It’s a question mark.
Berarti “Outro” akan menentukan arah ZIP selanjutnya atau nggak?
Belum bisa dijawab. Karena gue pun sekarang belum kepikiran juga. But definitely, gue nggak mau bikin another Model Citizen. Jadi, gue pengen the next material tuh ada elemen-elemen baru lagi.
Tadi lo sempat mentioned SSD. Dalam wawancara soal reissue-nya The Kids Will Have Their Say (2023), SSD bilang anak muda jarang ditanya pendapatnya dan semakin tak peduli politik. Fast forward to now, semua seakan berlomba menjadi paling ‘woke’ dan vokal. Bagaimana lo melihat pergeseran ini, terutama dari sudut pandang hardcore yang telah melakukannya sejak lama?
Mungkin gue nggak mau terjebak di pemikiran yang ke arah situ [sudah melakukannya duluan], ya. Karena gue juga, at this point, masih banyak mencoba belajar dan baca gitu. Karena, gue rasa kita punya privilege untuk bisa dapetin akses terhadap informasi dan knowledge, so we should maximize that—any discussions, any sources, buku dan segala macem. Mungkin, yang belum masuk atau nyemplung belum nemu urge-nya, dorongannya, atau kayak pemantiknya, gitu. Di sini, bisa jadi, fungsi Model Citizen (2025) adalah sebagai pemantik.
Sisanya mungkin, ‘okay, everyone can do it themselves,’ tinggal urge atau pemantiknya untuk, kayak, the ‘do’ it, gitu. Karena, of course, hardcore punk nggak jauh-jauh dari isu sosial–politik, fenomena sosial, fenomena politik. Walaupun di Model Citizen (2025) juga ada personalnya, ya.
Tapi, again, personal dan politik tuh saling bersinggungan. I think we wouldn’t be here without pilihan-pilihan politik yang kita bikin.
Di tengah kekacauan urban yang kita sudah bahas, apa yang masih ngasih lo harapan?
I still believe in the people, even though banyak juga group of people (atau those who sit in the throne, mereka juga people, lah ya) yang chose to be abusive, and they chose to get away with it. Tapi, ada juga a lot of people who deal with work for the betterment of everything, including social injustice, people that speak out constantly about Gaza, Westbank, Sudan, Congo, people that constantly circulate information. Gua selalu percaya itu sih—in the collective power, and each individual juga.
To answer your question, yes, gua masih punya rasa optimis. Walaupun, mungkin kadang gua ngeliatnya secara paradoks tuh dikalahkan sama rasa pesimistis. Tapi somehow, somewhere, down there there’s still hope.
I feel, with everything that we do, ini salah satu bentuk yang bisa gue lakukan sih, or the least that I can do. Kayak, bikin sebuah karya yang hopefully bisa jadi pemantik—kalau nggak juga nggak apa-apa. Something like music has to kind of have the push or drive.
Karena hardcore dan punk, walaupun nggak bisa kayak, replicate those years again—those post-hardcore, DC hardcore, the early days. They have their moments. Now, we have to make our moments too.
Terakhir banget—kenapa artwork-nya kuning?
Sebenarnya nggak ada pilihan visual atau tematik yang mengisyaratkan sesuatu. Tapi, kalau bisa dibikin: Lampu kuning kan artinya warning, bisa dibilang.
Kuning sama hitam tuh instinctively better, karena tone-nya bisa nyala. Pilihan estetiknya itu sih. It’s not that big of a deal, sebenarnya.



