
W_Circle: Indonesia Graveyard
Dalam segmen pertama W_Circle, kami bertemu Reyhan Biadillah dari komunitas Indonesia Graveyard untuk mengeksplor lebih dalam tentang makna makam, pengalaman mereka blusukan ke makam, dan sejarah-sejarah dari makam yang mereka pernah temui.
Words by Whiteboard Journal
Words: Jemima Panjaitan
Photo: Indonesia Graveyard
Melalui sinema Indonesia yang lekat dengan genre horor, bisa disimpulkan bahwa hubungan kita dengan kuburan punya stigma yang tak baik sampai kata-kata “Sekolah kita ini dulunya kuburan, lho,” menjadi sangat lazim di telinga.
Prasangka ini terbentuk karena memang kuburan menandakan adanya kematian, dan itu juga yang menghadirkan semacam existential panic dalam diri kita.
Komunitas yang antusias dengan kuburan, Indonesia Graveyard, ingin memecahkan stigma tersebut. Mereka percaya bahwa kuburan atau makam adalah sebuah kisah yang merekam nilai budaya dari masa silam. Dibentuk oleh Ruri Hargiyono yang mulai sering pergi ke malam setelah kehilangan ayahnya, ia membentuk Indonesia Graveyard pada tahun 2016 bersama Deni Priya Prasetia.
Dalam W_Circle kali ini, kami berkesempatan untuk berbincang dengan Reyhan Biadillah, salah satu anggota Indonesia Graveyard.
Kalau dilansir dari artikel lain, sejarah terbentuknya Indonesia Graveyard itu didasari hobi fotografi, tapi kenapa objeknya jadi spesifik ke pemakaman?
Jadi, kenapa fokus ke kuburan karena awalnya kami menganggap itu suatu hal yang unik. Berziarah saja tanpa ingin tahu lebih lanjut. Nah, dari sana didukung juga dengan adanya platform media sosial, terutama Instagram. Jadi satu makam tertentu di-upload, dibedah sejarahnya, kemudian orang jadi baca.
Yang tadinya hanya foto nisan makam, kuburan, bangunan, kemudian berkembang jadi mengupas sejarah tokoh yang dimakamkan di satu tempat seperti itu. Fokusnya berawal dari sana.
Bagaimana proses sampai akhirnya Indonesia Graveyard mengumpulkan orang-orang yang punya ketertarikan yang sama dengan pemakaman?
Dulu, sebelum ada fitur kolaborator di Instagram, kami mengirim submisi foto ke akun Indonesia Graveyard untuk jadi kontributor. Misalnya saya menemukan atau mengupas satu makam tokoh tertentu, saya DM ke adminnya Mbak Ruri, kemudian Mbak Ruri mengupload ulang. Nah, karena kami sifatnya kontributor gak ada anggota khusus. kami saling memiliki aja gitu. Saya menemukan makam di Cianjur, ya saya upload dari Cianjur. Saya menemukan makam dari Surabaya, saya upload dari Surabaya. Saya menemukan makam di Ambon, saya upload dari Ambon. Jadi tidak ada harus mendaftar dengan cara ini, tidak. Kami tidak seperti itu.

indonesia_graveyard via Instagram

Image via Agung Hartamurti

Image via Agung Hartamurti

Image via Agung Hartamurti

Image via Agung Hartamurti

Image via Agung Hartamurti
Gimana caranya orang-orang bisa join Indonesia Graveyard? Ada kriteria anggota tertentu nggak untuk bisa ikutan kegiatan-kegiatan Indonesia Graveyard?
Tidak ada batasan umur, tidak ada batasan etnis, tidak ada batasan harus seperti apa, yang penting ada foto makam, atau sejarahnya, atau apa pun yang berbau makam. Untuk kegiatan kami juga nggak pernah terencana, pasti insidental. Kalau mau berangkat ke makam besok, ayo berangkat. Kecuali kami berkolaborasi untuk telusur makam dengan [misalnya] Ngopi Jakarta, baru itu akan dijadwalkan secara resmi.
Indonesia Graveyard sendiri kan sebenarnya nggak punya sistem ‘keanggotaan,’ tapi kalo bisa diestimasi, ada berapa orang yang ada di komunitas ini?
Kalau dilihat dari kegiatan telusur makam sebelumnya, mungkin sekitar 32 orang, tapi itupun karena kegiatan kolaborasi dengan komunitas lain. Kami kan nggak cuma di Jakarta, tapi di mana-mana, mereka yang di kota lain bahkan biasa cuma berdua, bertiga, atau bahkan sendiri blusukannya.
Ketika mengunjungi pemakaman, biasanya ada kegiatan khusus yang dilakukan gak? Apa ada semacam kegiatan spiritual yang dilakukan?
Kegiatan khususnya sih nggak ada, ya. Makam itu kan kita kunjungi selalu terkait dengan tujuan. Nah, tujuan kami ke makam apa? Kami berziarah, kami mengambil pelajaran dari sana, dan yang paling penting adalah kami belajar sejarah dari sang tokoh.
Pernah ada kejadian ‘aneh’ nggak selama melakukan aktivitas di pemakaman?
Nggak sih, namun memang ada beberapa hal yang kami lakukan untuk menghormati si empunya makam. Untuk pergi ke makam ada langkah-langkahnya, pertama kalau kami di TPU misalnya, kami bisa minta izin dulu ke pengurus makam atau pengelola makam, dan kalau itu makam keluarga, kami minta izin dulu ke keluarga. Setelah semua dipenuhi maka ketika kita sampai ke makam, kita berdoa dulu terus kemudian mengikuti adab atau tata krama yang ada di makam itu. Kita kalau di makam pasti nggak ngomong sembarangan, karena kita selalu menganggap bahwa yang dimakamkan di sana itu hidup. Hanya kita berbeda dunia aja dan nggak bisa denger, nggak bisa berbicara dengan si empunya makam.
Kalau kita melangkahi makam atau tidak sengaja melangkahi makam ya, kita harus minta maaf, itu keyakinan kami sebagai bentuk penghormatan kita kepada mereka. Selama prosedur-prosedurnya benar ya nggak ada masalah. Selama ini ketika saya blusukan makam nggak pernah ada masalah. Nggak ada penampakan hantu atau apapun, biasa aja. Bahkan di Jakarta, makam-makam sudah banyak dijadikan tempat pacaran orang, tempat berkencan. Ya nggak ada masalah selama kita melakukan hal-hal yang baik.
Pemakaman itu kan sifatnya sakral, terlebih untuk orang-orang yang ditinggalkan. Kalian pernah dapat kesulitan ketika mengunjungi pemakaman nggak?
Selama ini ketika saya blusukan ke makam nggak ada masalah. Nggak ada penampakan hantu atau apa, biasa aja. Selama ini kami juga tidak pernah kesulitan kecuali di beberapa kompleks makam. Teman-teman Indonesia Graveyard yang ada di kota lain juga sering berkontribusi dan tidak mengalami kesulitan, kecuali ada beberapa aturan yang memang ditetapkan dalam kompleks makam tertentu. Misalnya, di Kota Gede atau di makam kompleks pemakaman Imogiri yang memang ketat aturannya, karena di makam Sultan Agung tuh nggak boleh foto, terus kita harus mengenakan pakaian Jawa ketika mengunjungi makam. Kalau seperti itu bukan kesulitan sih sebenarnya, tapi memang aturan yang ditetapkan dari sana. Kalau kesulitan, mungkin lebih ke akses jalan ke makamnya.
Dari banyaknya pemakaman di Jabodetabek, pemakaman apa yang paling berkesan dan ada alasan tertentu nggak?
Salah satu yang paling berkesan, ketika kami sebagai kontributor Indonesia Graveyard Itu menemukan makam, misalnya kami menemukan nisan khas Aceh tapi di tengah kampung yang orang juga gak tahu. Terus kemudian yang paling berkesan adalah ketika ada yang DM minta tolong dicarikan makam keluarganya. Kadang tidak dikasih petunjuk, biasanya hanya lokasinya dan kami nyari satu-satu, ketika ketemu itu jadi kepuasan tersendiri, dan kebanggaan luar biasa lah bagi yang dapat.
Satu waktu saya dikontak Mbak Ruri: Mas tolong dong carikan makam, tempatnya di Cianjur waktu itu.
Yang mencari ini, dia warga Amerika, ayahnya adalah imigran dari Hungaria di Amerika, bernama Denes Szabo, ketika istri pertamanya wafat, ia kemudian menikah dengan orang Sunda. Beberapa tahun sebelum akhir hayatnya beliau pindah ke Cianjur sekitar tahun 2014–2015. Terus wafat di tahun 2018. Anaknya nyari lokasi makam ayahnya dan minta bantuan temannya, lalu temannya minta bantuan ke Indonesia Graveyard. Nah dari sana saya berangkat ke Cianjur cari dan syukur, makamnya ketemu. Di Instagram kami, itu tayangan yang paling banyak, ini sekarang hampir 500.000 tontonan.
View this post on Instagram
Indonesia Graveyard, sebagai komunitas, pernah mendapatkan reaksi negatif dari publik nggak?
Selama ini saya kira nggak ada reaksi negatif ya. Mungkin orang jadi berpikir ‘Nih ngapain sih ke makam? Nyari apa sih di makam?’ Dalam stigma masyarakat kan kalau ke makam nyari nomor, mungkin nyari pesugihan, atau nyari benda-benda keramat, atau nyari suatu tujuan tertentu seperti itu. Selama ini mungkin stigma masyarakat kayak gitu. Ya selama ini sih nggak ada yang negatif yang sampai, wah lo kurang kerjaan ngatain gitu. Nggak sampai kayak gitu. Cuma mungkin stigmanya, ‘Ah, orang paling kurang kerjaan, ngapain sih ke kuburan.’
Stigma negatif apa sih yang sering publik pikirkan tentang melakukan kegiatan seperti Indonesia Graveyard, atau tentang pemakaman itu sendiri?
Rata-rata ketika orang berbicara makam atau berpikir makam, wah ini tempat yang horror, ini tempat yang mistis. Terlebih ada film-film zaman dulu seperti Sundel Bolong (1981), Malam Jumat Kliwon (1986), dan makam itu digambarkan sebagai tempat yang horror.
Kami ingin melepas stigma itu. Selama ini kan yang digambarkan film horor atau mistis kan memang tujuannya jadi konten hiburan. Kalau kami pribadi, kami mau mengedukasi masyarakat untuk menganggap makam adalah bagian dari kita. Jangan dianggap sebagai suatu yang horror atau mistis.



