
Text : Yuka D. Narendra | Illustration : Kismartono
|
Konsumen musik rock di Indonesia di masa itu (selanjutnya akan disebut sebagai ‘konsumen kaset rock’) mengenal beberapa perusahaan rekaman ‘lokal’ yang memroduksi rekaman-rekaman rock dari berbagai penjuru negara. Contohnya adalah Yess, yang berasal dari jalan Veteran, Bandung. Yess dikenal oleh konsumen kaset rock sebagai spesialis musik progressive rock.6 Kaset rock produksi 70-an hingga 80-an secara signifikan membedakan konsumen kaset rock di Indonesia dengan konsumen rock internasional di masanya, dan konsumen rock di Indonesia kini. Konsumen kaset rock di masa itu mengonsumsi kaset tidak dalam wacana copyright. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, absennya wacana copyright dalam disseminasi musik rock di Indonesia memberikan kesempatan bagi lokalitas mengonstruksi ruang artikulasi, seperti sebuah ruang differensial (Lefebvre, 1991, 397). Praktik merekam vinyl ke dalam kaset dan membuat kemasan sampul atas interpretasi sendiri tidak hanya dapat dibaca secara normatif sebagai sebuah peristiwa ekonomi (pembajakan). Shields (1998, 1855) menjelaskan bahwa ruang artikulasi macam ini menunjukkan adanya gejala resistensi terhadap spasialisasi dominan. Dengan kata lain, anggapan bahwa konsumen kaset rock di Indonesia telah tersubordinasi dalam skema penjajahan kultural setidaknya dapat dikontekstualisasikan melalui kasus kaset rock ini. Jika dibandingkan dengan konsumen rock di negara dunia pertama, konsumen kaset rock di Indonesia terlihat “memelas.” Mereka hanya sanggup mengonsumsi produk-produk “palsu.” Mengoleksi kaset palsu, menonton
MTV palsu melalui rekaman MTV yang direkam ke dalam kaset video, serta menonton Rush dan Genesis palsu di festival rock gelanggang remaja. Muesterberger (1994, melalui Shuker, 2001, 201) berargumen praktik mengoleksi merupakan cara mengatasi ketegangan masa kecil dengan menciptakan rasa keteraturan dan kelengkapan. Namun bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan melalui koleksi kaset di Indonesia? Pernyataan di atas menjadi lebih kompleks ketika praktik koleksi yang disebutkan itu merupakan praktik mengoleksi rekaman “palsu” berformat kaset. Hal tersebut dapat dimaknai sebagai konsumsi imajiner dengan praktik imajiner. Situasi tarik-menarik antara pemanaknaan musik rock yang dituding sebagai representasi dekadensi kebudayaan dengan narasi kebudayaan “nasional” yang diakui negara menjadi latar belakang konsumsi kaset.7 Dalam hal ini kaset berperan sebagai pembeda generasi yang tidak hanya merepresentasikan (kesenjangan) teknologi analog. Lebih jauh dari itu, kaset rock produksi Indonesia 70-an dan 80-an merepresentasikan memori kolektif generasi yang (seolah) belum sepenuhnya runtuh ke dalam imperialisme kultural budaya pop dari negara dunia pertama. Argumentasi pertama terletak pada ruang artikulasi (ruang diferensial) yang telah dibahas sebelumnya. Ruang artikulasi inilah yang membedakan, konsumsi budaya pop (musik rock) global yang khas Indonesia. Praktik reproduksi kaset (dan konsumsinya) menjelaskan bahwa kesenjangan teknologi analog yang dialami Indonesia menjadi alat untuk mengontekstualisasikan budaya pop global (musik rock) dengan lokalitas.
|
Ditambah lagi situasi miskin informasi akibat terisolasinya Indonesia dari jalur distribusi produk budaya pop global sebaliknya, membuat praktik reproduksi dan konsumsinya semakin intens. Penggemar rock di Indonesia harus mencari sendiri segala informasi yang diinginkan karena tidak banyak media massa yang memberikan asupan informasi tentang rock.Pada akhirnya, praktik reproduksi dan konsumsi musik rock di Indonesia menjadi sebuah proyek rekontekstualisasi budaya pop global. Akibatnya, generasi yang mengalami “masa sulit” di tahun 70-an dan 80-an memiliki pemaknaan yang berbeda mengenai konsumsinya. Contohnya, semangat genre progressive rock yang di negara asalnya berupa artikulasi resistensi terhadap genre rock mainstream, di Indonesia dapat dimaknai sebagai artikulasi kecanggihan teknologi atau bahkan dimaknai secara spiritual.8Lebih jauh lagi, di dalam ruang artikulasi ini rekontekstualisasi budaya pop (musik rock) dengan lokalitas menunjukkan adanya tarik-menarik antara lokal dengan global. Musik rock sebagai produk budaya pop global dilokalkan oleh industri musik Indonesia melalui praktik reproduksi kaset. Dengan demikian apa yang dikonsumsi oleh konsumen rock di Indonesia telah menjadi “glokal” jauh sebelum globalisasi menjadi narasi besar di tahun 90-an. Namun bagaimanapun interpretasi terhadap konsumsinya, secara kolektif praktik konsumsi di “masa sulit” itu dengan sendirinya mengonstruksi sebuah memori bersama akan musik rock. Memori ini tidak mengacu pada pemaknaan dan konsumsi genre (dan sub-genre) rock, melainkan pada metode konsumsinya.
Kesenjangan teknologi dan informasi di era analog inilah yang kemudian mengonstruksi metode konsumsi yang khas Indonesia. Sebuah praktik konsumsi yang seluruhnya dalam tataran imajiner melalui produk-produk palsu. Namun kepalsuan produk-produk tersebut tidak dimaknai secara normatif (apalagi secara moral). Secara berkebalikan kepalsuan tersebut dimaknai sebagai alat (metode) artikulasi yang khas dan bermuatan “lokal.” Dengan sendirinya, memori kolektif ini jugalah yang menjadi konstruksi identitas generasi rock Indonesia 70-an dan 80-an. Walau memori kolektif ini merupakan memori akan musik rock yang berkonotasi global, rangkaian proses reproduksi-disseminasi-konsumsi yang berlangsung memberikan pemaknaan memori kolektif rock khas Indonesia. Pada akhirnya, identitas mereka secara tidak langsung juga menuntut rekontekstualisasi identitas keindonesiaan. Artinya, segala perdebatan mengenai identitas nasional dan budaya (pop) bangsa perlu dikaji kembali secara lebih mendalam. Di sisi lain, para penggembira globalisasi dapat pula membaca kembali bagaimana posisi kultural mereka di tengah percaturan (industri) budaya pop global dengan memperhitungkan memori kolektif generasi rock Indonesia sebagai salah satu faktor kekhasan (lokal) budaya (pop) Indonesia. Kaset RUSH album “Permanent Waves”, Produksi Yess, Bandung, 1981.Milik: Gatot W. Hidayat. Produksi asli Mercury Records, 1981. Sumber: http://gwmusic.wordpress.com/2009/10/06/kaset-rush-permanent-waves-yess |


Loading...




