
Text : Yuka D. Narendra | Illustration : Kismartono
|
Hal tersebut berlaku pula dalam konstruksi rock. Sebagai genre dari musik pop, musik rock merupakan subkultur dari budaya pop. Artinya, dalam konteks Shuker, tindakan mengonsumsi musik rock juga berupa praktik mengoleksi rekaman, pergi ke konser, menonton video musik di televisi dan mendengarkan siaran radio rock, berdandan ala rocker idola. Kaset merupakan medium yang umum di industri musik Indonesia 80-an. Baik digunakan untuk produksi musik lokal, maupun musik import. Selain praktis, harga kaset murah dan proses replikasinya lebih mudah dibandingkan dengan vinyl. Namun dalam mereproduksi musik import, harga kaset murah bukan hanya karena faktor produksinya saja. Harga kaset album-album rock barat di Indonesia menjadi murah karena semuanya merupakan hasil reproduksi dari rekaman vinyl asli. Perusahaan rekaman membeli album asli dalam format vinyl kemudian mereplikasinya sendiri ke dalam kaset-kaset format C-60 (durasi 60 menit) dengan teknologi replikasi kaset sederhana. Oleh karena rata-rata album rekaman dalam format vinyl tidak berdurasi 60 menit, maka perusahaan rekaman lokal menambahkan lagu-lagu dari album lain untuk mengisi sisanya. Praktik macam ini, oleh industri musik internasional dianggap sebagai praktik membajak karena perekam lokal Indonesia tidak membayar royalty sepeser pun kepada perusahaan rekaman yang memroduksi album aslinya. Salah satu perekam lokal di masa ini adalah perusahaan rekaman Yess di jalan Veteran, Bandung. Perusahaan ini mereproduksi album-album progressive rock 70-an hingga 80-an. Di negara dunia pertama, penggemar rock mengoleksi album rock dalam format vinyl (piringan hitam) asli.
Mereka pergi ke konser musisi untuk menonton penampilan langsung musisi idola. Di rumah, mereka dapat menikmati video musik terbaru melalui MTV atau siaran televisi biasa. Atau, dalam perjalanan mereka dapat mendengarkan wawancara langsung musisi idola melalui siaran radio. Argumentasi Shuker (2001) dapat menjadi berbeda jika ia menjadikan Indonesia di tahun 80-an sebagai arena penelitiannya. Mengapa? Persoalannya adalah, penggemar rock di Indonesia dengan penggemar musik rock dunia pertama dapat saja mengonsumsi band/musisi/album/lagu yang sama. Namun, konsumen rock di Indonesia mau tidak mau hanya dapat mengoleksi rekaman (palsu) dalam format kaset. Mereka juga tidak dapat menikmati rock melalui medium televisi karena TVRI tidak pernah menyiarkannya. Untuk konser, hanya musisi epigon lokal yang memainkan rock barat.1 Bukan persoalan pembajakan yang hendak dibahas di sini. Melainkan persoalan artikulasi kultural yang diakibatkan kesenjangan teknologi antara negara dunia pertama dengan negara dunia ketiga, dalam konsumsi budaya pop.2 Dalam konteks konsumsi di tataran pertama, konsekuensi logisnya adalah impor vinyl. Harga vinyl yang mahal menjadi alasan praktik perekaman yang terjadi di Indonesia. Bukan karena vinyl tidak dapat diproduksi di Indonesia. Bukan pula vinyl yang sesungguhnya diimpor, melainkan budaya pop yang termuat dalam vinyl tersebut. Impor budaya pop, dapat dimaknai sebagai konsekuensi logis dari tuntutan modernitas untuk menjadi bagian dari masyarakat dunia.3 Singkatnya, budaya pop adalah konstruksi budaya baru yang memberikan peluang bagi generasi muda untuk mengartikulasikan gagasan modernitas melalui praktik konsumsi. |
Ketika reproduksi vinyl asli tidak dapat dilangsungkan di Indonesia akibat absennya Indonesia dari Konvensi Bern, pada saat yang sama perusahaan rekaman dihadapkan pada kenyataan bahwa alat pemutar vinyl tidak populer di kalangan konsumen musik Indonesia.Di sinilah letak kesenjangan teknologi yang pertama. Teknologi analog dalam industri musik, baik dalam tataran produsen maupun konsumen, bukanlah teknologi yang murah. Pertama, teknologi analog masih memiliki kelemahan dalam hal reproduksi. Dibutuhkan peralatan mahal untuk memroduksi vinyl. Satu-satunya kemungkinan untuk mereproduksi vinyl hanyalah ke dalam format kaset. Tidak hanya kompak dan praktis, kaset juga memiliki kelebihan dalam nilai ekonomi. Harganya yang murah tidak hanya menarik bagi konsumen. Bagi produsen, biaya mereproduksi rekaman vinyl ke dalam kaset juga murah. Namun di balik kelebihannya, kesenjangan teknologi yang kedua justru terletak pada karakter kaset itu sendiri. Yaitu, kualitas sonic yang dihasilkan. Audio yang direkam ke dalam kaset jika direkam kembali ke dalam kaset yang lain akan berkurang kualitasnya.4 Teknologi analog audio memiliki kelemahan mendasar dalam hal reproduksi massal, yaitu turunnya kualitas audio. Penurunan kualitas ini kemudian menjadi alat industri budaya pop untuk mengedepankan isu orisinalitas. Orisinalitas seolah beroperasi sebagai ISA (ideological state apparatus)5 untuk melegitimasi sistem copyright. Pada akhirnya bukan persoalan apresiasi terhadap karya produk budaya pop yang penting, melainkan sejauh mana reproduksi massal yang dilakukan industri budaya pop mendatangkan profit.
Disseminasi budaya pop bergantung pada kemampuan reproduksinya. Apropriasi teknis yang dilakukan industri musik Indonesia di tahun 70-an hingga 80-an terhadap musik impor melalui kacamata industri musik internasional sebagai praktik pembajakan. Namun kenyataannya, apropriasi tersebutlah yang membuka jalan bagi generasi muda Indonesia kepada ranah budaya pop internasional melalui praktik konsumsi. Secara signifikan pula, kesenjangan teknologi yang dialami konsumen budaya pop internasional di Indonesia menjadi berbeda pengalamannya sehingga berbeda pula artikulasi kultural yang dihasilkan. Perbedaan ini berkelindan dengan kenyataan terisolasinya Indonesia dari pasar musik internasional akibat absennya Indonesia dari Konvensi Bern. Industri musik internasional merasa tidak pernah mendistribusikan produknya ke Indonesia. Sementara itu, TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi tidak pernah memasukkan musik rock ke dalam materi siarannya. Ini dapat dimaknai sebagai marjinalisasi ganda terhadap konsumen rock di Indonesia. Termarjinalkan sebagai konsumen budaya pop internasional, dan pada saat yang sama termarjinalkan sebagai konsumen rock yang merupakan bagian dari budaya pop internasional. Memori Kolektif dan Budaya Pop Uraian di atas menjelaskan bahwa teknologi analog menyisakan gap di tataran konsumsi. Gap ini kemudian membedakan konsumsi budaya pop internasional di Indonesia sebagai negara dunia ketiga, dengan dunia pertama. Dalam konteks orisinalitas, tulisan ini tidak memersoalkan isu moral yang dikedepankan oleh wacana copyright. Sebaliknya, argumen yang digagas di sini adalah perbedaan signifikan dalam metode konsumsi budaya pop, khususnya musik rock, di tahun 70-an dan 80-an. |


Loading...




