HomeFeaturesColumn • Current Page

Analog Kid(s)
March 16, 2010 · 217 views

templt-besar-2

Text : Yuka D. Narendra | Illustration : Kismartono
Metallica, Anthrax, Slayer, Testament bagiku adalah representasi ingatan akan Pondok Indah Plaza di tahun 1987-1988. Di masa itulah aku mulai masuk ke scene underground pertama di Indonesia: Pid Pub. Di situ kami menikmati Roxx membawakan lagu-lagu thrash metal. Gig mereka selalu ditutup dengan lagu mereka satu-satunya saat itu: “Rock Bergema.” Sebuah anthem rock pertama di Indonesia dan kami semua menyanyi bersama dengan tinju mengepal di udara: “Rock and Roll, bergema di kesunyian dunia.” Lagu itu kemudian menjadi sebuah cultural landmark penting bagi generasiku untuk menyadari posisinya di dunia. Sebuah generasi yang terasing dari dunianya sendiri karena mengonsumsi kebudayaan yang berbeda.Di masa itu, TVRI adalah satu-satunya televisi. Sangatlah tidak mungkin TVRI mau menampilkan musik rock di ruang medianya dan memberikan ruang bagi ekspresi kultural anak muda. Itulah sebabnya generasi kami tidak terlalu intens menikmati televisi. Televisi kami anggap sebagai representasi ortodoksi dan kekolotan generasi tua. Bahkan radio swasta yang menyiarkan musik pop barat terbaru pun di masa itu tidak akan membiarkan musik rock masuk ke dalam ruang dengarnya. Ekspresi kulturalku dan kawan-kawan segenerasiku tidak pernah mencapai ruang publik yang sesungguhnya, dan tidak pernah terdengar.

tmplt-kecil-3

Mendengarkan rock adalah berbeda. Menjadi berbeda di masa itu adalah sebuah kesalahan sosial terbesar, terutama di mata teman-teman perempuan di sekolah menengah pertamaku. Stereotip rock “sex, drugs, rock ‘n’ roll” secara dilekatkan padaku. Seolah, kehidupan pendengar rock sama brengseknya dengan musisinya. Apa sih yang seorang anak kelas 1 SMP mampu lakukan perkara sex atau obat bius? Ada lagi, perkara kegemaranku menggambar karakter Eddie, maskot Iron Maiden. Sosok tengkorak bercelana jeans dengan kapak penuh darah di tangan yang kerap aku gambar membuat ibuku kuatir dengan perkembangan kejiwaanku. “Ibu, itu cuma gambar.” Percuma aku menjelaskan. Tapi berkat stigma dan stereotyping itulah, alhamdulillah, aku belajar dengan baik. Aku jarang bermain, aku hanya di rumah belajar sambil mendengarkan rock. Demi pengetahuan musik, kelengkapan koleksi kaset dan piringan hitam, aku mengumpulkan berita tentang rock dengan intens. Padahal di masa itu belum ada internet seperti sekarang. Demi menggapai cita-cita menjadi rockstar, aku intens berlatih gitar. Agar mabrur diriku sebagai pecinta rock dan calon rockstar, aku pun dengan intens belajar minum alkohol.

spacer Berkenalan dengan ganja, belajar melinting dan menghisapnya. Tiba-tiba kepala terasa berat dan waktu terasa demikian cepat. Dengan cara itulah, aku mengenang dan mengumpulkan serpihan-serpihan ingatanku. Mendengarkan Van HalenJump” atau MetallicaMaster of Puppets,” hanya menjadi representasi dari duniaku seperempat abad yang lalu. Tapi aku, sekali lagi, bangga dibesarkan di masa itu dengan segala kesukarannya. Mengoleksi kaset dan piringan hitam di masa itu menjadi sebuah petualangan yang seru karena tidak ada informasi pendukung. Aku tahu banyak tanpa bantuan YouTube. Bertahan dengan keyakinan di tengah narasi kebudayaan bangsa ala rezim Soeharto bukanlah hal yang mudah. Di tengah kebosanan kultural itu aku berhasil menemukan survivor lain ketika pertama kali aku ke Pid Pub suatu malam di tahun 1986. Ternyata, aku tidak sendirian. Ingatanku kemudian menjadi ingatan generasi, ketika kami dipertemukan dalam representasi jaman yang sama, yaitu imajinasi rock. Imaji itu adalah sesuatu yang harus kami upayakan sendiri, karena di masa itu satu-satunya representasi kami adalah media massa yang tidak pernah mau merepresentasikan kami. Kami, generasi rock Indonesia yang dibesarkan hanya dengan imajinasi bersama. We survived the hard times, and we’re gonna keep on rockin’

tmplt-kecil-4

ANALOG DIVIDE • Kaset dan Teknologi Analog

Kenangan generasi 80-an yang diungkap di atas tidak hanya menjelaskan konsumsi budaya pop global di Indonesia. Hal yang penting diperhatikan di atas adalah bagaimana interplay antara konsumsi dan artikulasi kultural tersebut diperantarai oleh teknologi masa itu. Artikulasi kultural dalam tataran konsumsi ini dikonstruksi oleh perbedaan medium konsumsi yang signifikan antara konsumen rock negara dunia pertama, dengan negara dunia ketiga seperti Indonesia. Shuker (2001, 200-209) menjelaskan bahwa dalam medium konsumsi musik pop terdiri dari album rekaman, siaran radio, konser, club, fashion, acara televisi. Album rekaman dalam konteks Shuker adalah album orisinal yang diproduksi oleh perusahaan rekaman tempat musisi bernaung. Sementara, siaran radio yang mengudarakan single terbaru, acara televisi berupa wawancara dengan musisi dan video musik, serta konser. Kesemuanya itu pada umumnya merupakan bagian dari rangkaian promosi rekaman.

1 2 3 4 5