HomeFeaturesColumn • Current Page

Analog Kid(s)
March 16, 2010

templt-besar-1

Text : Yuka D. Narendra | Illustration : Kismartono

A DECADE IN ROCK • Sekilas Konsumsi Music Rock Era Soeharto

Ibuku adalah anak terkecil dari 10 bersaudara sehingga dalam keluarga ibuku, aku adalah cucu terkecil. Kakak-kakak sepupuku mayoritas adalah generasi 70-an yang rata-rata berjarak 7 hingga 15 tahun lebih tua dariku. Masih segar dalam ingatanku, hal yang paling memesonaku sewaktu kecil. Bukan mainan, bukan juga hal-hal yang luar biasa. Hanya sebuah poster di kamar kakak sepupuku. Poster versi bajakan yang dicetak di atas karton dupleks ukuran A2, khas Indonesia pertengahan 70-an. Poster itu bergambarkan seorang pemuda bule, berambut gondrong dengan kemeja terbuka hingga perut dan celana jeans cutbrai yang terlihat sangat kotor dan lusuh. Dari pose tubuhnya, terkesan ia sedang dalam keadaan mabuk berat. Tangan kirinya memegang sebuah mikrofon. Di balik pemuda mabuk ini, terlihat seorang pemuda lain memegang gitar. Terlihat dari posenya ia sedang dalam keadaan bermain gitar dengan intens. Pertama kali melihat poster ini aku terbengong kagum. Aku menatapnya untuk waktu yang sangat lama, dan bertanya, “Siapa ini?” Kakak sepupuku menjawab, “Itu Robert Plant dan Jimmy Page.”

tmplt-kecil-1

Untuk seorang anak usia 5 tahun, jawaban itu bagiku tidak bermakna apapun. Namun, image yang kulihat dari poster itu aku ingat terus hingga ketika aku melihat image yang sama pada sebuah sampul kaset di Aquarius, Aldiron Plaza, Blok M. Perlu waktu yang cukup lama bagiku untuk meyakinkan ibuku bahwa sebagai anak umur 5 tahun, aku memang harus dibelikan kaset itu. Sepulang dari Aldiron, hidupku pun sontak berubah. Itulah awal perkenalanku dengan Led Zeppelin dan musik rock pada umumnya.

Beberapa bulan kemudian, ketika berulang tahun keenam aku mendapat hadiah kotak makanan dari kaleng dan sebuah piringan hitam. Tidak ada yang istimewa dari kotak makanan tersebut, selain gambarnya: official photo dari Kiss. Bagiku mereka seperti dewa atau makhluk dari planet entah apa.

spacer

Seperti kotak makanan, piringan hitam yang kudapat juga bergambar sama: Kiss “Rock and Roll Over.”Dua pertemuan paling mengesankan inilah yang mengubah hidupku. Sejak dua kejadian itulah, aku mulai punya kebiasaan baru yang aneh bagi anak usia 6 tahun, yaitu mengumpulkan kaset dan piringan hitam rock. Aku jadi jarang bermain, bahkan tidak terlalu tertarik dengan mainan karena aku telah menemukan mainan baru: stereo set dan musik rock. Sejak itulah, aku ingat, aku punya cita-cita sederhana, menjadi rockstar. Dalam waktu singkat, aku berkenalan dengan banyak sekali sub-genre rock dari beberapa kakak sepupuku yang memiliki selera berbeda-beda. Merekapun seolah senang memiliki mainan baru, yaitu mencekoki pikiran anak kecil dengan musik kesukaan mereka. Sejak itu pula, aku selalu minta hadiah kaset atau piringan hitam di hari ulang tahunku.

Aku sungguh bangga dibesarkan di tahun 70-an akhir dan 80-an awal. Aku tumbuh bersama dengan raksasa-raksasa rock yang kini tinggal legenda. Aku melihat sendiri kegundahan penggemar Led Zeppelin ketika mereka membubarkan diri di tahun 1980. Di tahun yang sama, aku ikut mengalami kehebohan atas pembunuhan John Lennon melalui berita di TVRI.

tmplt-kecil-2

Di tahun yang sama pula, aku mengalami kehebohan single-single rock terhebat sepanjang masa. Hampir seluruh momentum penting dalam hidupku, aku identifikasi dengan single rock sesuai jamannya. Lagu “YYZ” dari Rush, atau “You Shook Me All Night Long” dari AC/DC selalu menjadi pintu masuk bagiku untuk mengingat apapun di tahun 1980. Atau, album “Pyromania” dari Def Leppard menjadi pintu ingatanku akan seri rekaman video “Rock Concert” di tahun 1982-1983. Di masa itu, kami harus pergi ke penyewaan video untuk mendapatkan video rekaman lagu-lagu rock terbaru, yang ternyata beberapa tahun kemudian aku baru tahu bahwa sebenarnya video itu adalah kumpulan rekaman acara Headbangers’ Ball MTV.

1 2 3 4 5